Wednesday, September 11, 2013

Cerita dari Sawarna: Memanjakan Mata dan Kamera di Sawarna

Sawarna, nama yang tak asing bagi pencinta traveling dan fotografi landscape. Namanya begitu terkenal, karena seringnya orang membicarakan dan meng-upload foto foto landscape keindahan pantai-pantai di Sawarna. Ombaknya yang besar sangat cocok bagi yang senang olahraga surfing (Selancar). Bahkan sudah dikenal sampai mancanegara dengan banyaknya turis asing yang menyambangi pantai ini. Jika anda ingin memanjakan mata dan kamera anda, datanglah ke Sawarna.

Seringkali saya salah menyebut Sawarna dengan Sarwana. Sampai suatu kali saya bertanya kepada teman “yang benar pantai Sawarna atau Sarwana sih?” teman saya malah menertawakan saya, “Pantai Sawarna, kalau Sarwana kan penyanyi Elfa’s Singer he...”

Letaknya yang tidak jauh dari Jakarta, biaya trip yang tidak mahal (hanya Rp. 700,000), pemandangan alam yang indah, menjadi alasan utama untuk nge-trip kesana.

Gayung pun bersambut, kebetulan ada penawaran dari travel agent untuk nge-trip ke sana. Impian yang sudah terpendam lama untuk mengunjungi Sawarna bakal terwujud.

Saya pun mengontak teman-teman yang sudah terbiasa nge-trip bareng. Banyak teman yang tidak bisa ikut, dengan berbagai alasan. Ada yang kebetulan waktunya bersamaan nge-trip ke luar negeri atau belum lama nge trip ke daerah lain. Mentok hanya tiga orang termasuk saya yang akhirnya pergi.

Saat sampai di Hokben Kartika Chandra tempat meetingpoint, belum ada peserta yang datang, hanya Maria teman trip yang sudah datang dan sedang makan. Saya pun memesan satu paket makanan karena belum makan dari rumah.

Satu persatu peserta berdatangan, mereka berombongan bersama dengan teman-teman trip nya. Total peserta 18 orang, termasuk pemilik travel, Mbak Nina. Jam setengah sepuluh malam, kami menaiki mobil elf putih menuju ke arah Sukabumi. Perjalanan sangat lancar karena tidak terkena macet.

Rasa capek, membuat peserta trip tertidur dengan pulasnya. Saya terbangun saat jalan mulai naik-turun, menikung ke kiri dan ke kanan. Entah sudah sampai dimana. Terlalu gelap untuk mengenali daerah yang kami lewati. Hanya sorot lampu kendaraan yang menunjukkan jalan beraspal yang harus kami lewati.



Penginapan yang kami tempati

Jam setengah empat pagi, kami sudah sampai di Sawarna. Kami sampai lebih cepat dari perkiraan. Hanya 6 jam dari prediksi 7-8 jam perjalanan dari Jakarta. Penginapan yang kami tempati berupa rumah panggung yang ramah lingkungan karena menggunakan bahan kayu dan berdinding anyaman bambu, beratapkan ijuk. Dari papan nama tertulis “Sawarna, Little Hula Hula Cottage & Cafe.”

Karena peserta laki-lakinya hanya dua orang, saya dan Yunaidi, kami mendapat kehormatan menempati satu cottage, sementara yang perempuan di dua cottage sisanya. Untuk menghemat tenaga kami langsung melanjutkan tidur. Zzzz.....



Pemandangan sawah di belakang penginapan

Mentari pagi, membangunkan kami. Hawa yang sejuk dengan pemandangan alam pedesaan langsung menyergap panca indera. Aroma angin pantai langsung tercium, pantai berpasir putih dengan pohon nyiurnya terpampang nyata di depan penginapan, sayup-sayup terdengar deburan ombaknya. Sementara di belakang penginapan pegunungan dengan pohon-pohonan yang lebat dan hamparan sawah yang menghijau berundak-undak seolah-olah sedang mendaki bukit. Cakrawala pun membiru menjadi latar menghijaunya alam.

Desa Sawarna, terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Berbatasan langsung dengan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Setelah sarapan, trip ke pantai-pantai di Sawarna pun dimulai. Pantai Pertama yang akan kami kunjungi adalah Pantai Ciantir. Dari tempat parkir masih harus berjalan kurang lebih 1 km untuk mencapai pantai. Kami melewati jembatan gantung yang melintang di sungai dan akan bergoyang goyang saat melewatinya. Rumah-rumah penduduk desa Cikaung (nama desa yang saya lewati) umumnya sudah disulap menjadi homsestay/rumah penginapan, seiring makin banyaknya jumlah wisatawan yang berkunjung kesana. Inilah obyek-obyek wisata yang kami kunjungi selama di Sawarna.

1. Pantai Ciantir

Pantai Ciantir, memiliki pantai berpasir putih dengan deburan ombak yang besar. Gemuruh ombaknya menderu-deru tinggi menerjang pantai. Pantai ini lebih cocok sebagai tempat untuk kegiatan olahraga. Sarana olahraganya pun tersedia seperti Volly Pantai dengan net yang melintang di tepi pantai atau sekedar bermain sepakbola di pasir putihnya yang luas. Mau berenang rasanya seram, melihat ombaknya yang besar, harus punya nyali dan berhati-hati agar tidak tergulung ombak dan terhempas. Kecuali anda ingin belajar olahraga surfing. Tak satupun dari kami yang berani terjun ke laut. Kami hanya melihat dengan mata kamera saja.



Pantai Ciantir yang terbelah dua

Di Pantai Ciantir, ada bagian dari pantainya yang terbelah menjadi dua bagian oleh selokan yang menyerupai sungai. Air nya bening bak kaca, jika kita berdiri diseberang selokan, akan terlihat bayangan, bagaikan di depan cermin, obyek yang menarik untuk fotografi. Jika ombak berlarian ke pantai akan seperti riak air yang beresonansi, berkejar-kejaran, wow indahnya. Pembelahan pantai oleh selokan itu membuat pantai menjadi lebih eksotis. Musa membelah air laut menjadi dua, selokan itu membelah pantai Ciantir menjadi dua. Amazing!

2. Pantai Tanjung Layar



Tanjung Layar saat air laut pasang

Selanjutnya kami menyusuri jalan yang masih segaris dengan pantai Ciantir. Kurang lebih 1 km jaraknya dari Pantai Ciantir. Pantai yang menjadi ikon Sawarna, Tanjung Layar. Pantai ini adalah pantai karang. Ada dua batuan yang menyerupai dua layar yang terkembang buatan alam dengan dinding-dinding karang di sekitarnya. Saat kami sampai disana, air laut sedang pasang, jadi kami tidak bisa mencapai batu-batuan yang menyerupai layar. Jarak batu layar dari bibir pantai kurang lebih lima puluhan meter. Mbak Nina, tourguide kami berkata: “Air pasang terjadi pada pagi sampai kurang lebih jam 2 siang, nanti sore kita datang lagi ke sini untuk menyaksikan sunset, airnya pasti sudah surut dan kita bisa menyeberang mendekati dua batu layar itu!” mbak Nina menghibur kami yang kelihatan kecewa karena tidak bisa menyeberang mendekati batu layar.



Tanjung Layar saat air tidak pasang

Setelah pulang dari Gua Lalay, kami kembali ke Pantai Tanjung Layar. Kali ini tidak berjalan kaki melainkan naik ojek motor yang banyak tersedia disana. Ternyata benar, air laut sudah surut. Karang di seputar batu layar sudah bisa dilewati. Ketika sampai disana sudah banyak rombongan yang akan menyaksikan senja di Sawarna. Tempat ini memang indah untuk memanjakan mata dan kamera. Setiap sudut menyajikan detil obyek dan warna yang berbeda. Begitu menceburkan diri ke pantai, langsung disambut bayangan yang memantulkan batu layar di air yang bening. Karang-karang bertonjolan dengan cekungan air ditempeli oleh rumput laut yang berwarna hijau kekuning-kuningan rebah di dasar air. Menambah eloknya pantai Tanjung Layar.



Menyaksikan senja di Tanjung Layar

Terlebih saat mendekati dua batu yang menyerupai layar, cahaya senja membuat batu-batuan itu berwarna kuning keemasan, menambah kesan megah. Lantai dari karang di seputar batu layar (kira-kira seluas lapangan bola), membentuk pola-pola grafiti abstrak yang indah. Digenangi sisa-sisa air yang memantulkan apa saja obyek yang ada di atasnya. Batu Layar itu dibentengi oleh dinding karang yang akan memucratkan air jika berbenturan dengan ombak yang besar. Suaranya menggelegar, menakutkan. Tempat ini seperti kapal besar yang terdampar di pantai dengan menyisakan layar dan dinding kapalnya.



Grafiti senja di Tanjung Layar



Senja di Tanjung Kayar

Di ujung Barat, para penikmat fotografi berjejer mendirikan tripod, “menyiksa” kamera dengan slowspeed nya. Merekam saat-saat terakhir matahari meninggalkan cakrawala, masuk ke peraduannya. Satu kata, Spekta banget, sunsetnya indah, sungguh indah banget!. Pantas saja, pantai ini masuk dalam daftar 7 wonders, 7 keajaiban Nusantara.

3. Goa Lalay

Goa Lalay atau Goa Lawa adalah tempat ketiga yang kami kunjungi. Untuk mencapai lokasi, kami harus berjalan kaki melewati alam pedesaan yang asri dengan pemandangan persawahan dan bunyi gemericik air. Pemandangan yang indah membuat langkah kaki menjadi ringan. Sesampai di mulut goa, kami terpana, karena mulut goanya kecil, hanya setinggi manusia. Dasar goanya dialiri air sungai yang bening. Sudah sampai di sana, tanggung kalau tidak masuk ke dalamnya. “Sandalnya dilepas saja, bawahnya berlumpur takut tertinggal,” kata mas pemandu sambil menyorotkan senter ke pintu goa. Melepas sendal, menitipkan kamera, kami pun masuk ke dalam.



Pintu masuk Goa Lalay

Kegelapan langsung menyergap. Goa itu ternyata sangat luas dan panjang. Stalaktit nya sudah mati. Aroma mistis langsung membuat bulu kuduk berdiri, menyeramkan! apalagi hanya sang pemandu yang membawa senter. Serasa sedang menjalani uji nyali. Langsung membayangkan film-film horor yang membunuh satu per satu korbannya yang posisinya paling belakang hiiii.... seram! (kebanyakan nonton film horor nih). Kami hanya sampai di tengah goa, karena makin ke dalam makin horor suasananya.

4. Laguna Pari dan Karang Taraje



Laguna Pari ombaknya sangat besar

Untuk mencapai kedua pantai ini, kami harus berjalan kurang lebih 3-4 kilo dari desa Cikaung. Jalanannya berbatu tajam dan licin. Naik turun melalui jalan pedesaan, panas mentari yang menyengat membuat cepat lelah. Tapi rasa capek dalam perjalanan akan terbayar lunas jika sudah sampai ke pantai. Tipikal kedua pantai ini mirip dengan Pantai Ciantir dan Tanjung Layar. Pantai Laguna Pari berpasir putih dcngan ombaknya yang besar cocok untuk olahraga surfing, satu tipe dengan pantai Ciantir. Sementara Karang Taraje mirip dengan Tanjung Layar, yakni pantai karang.

Kami tidak berlama-lama di Laguna Pari hanya minum air kelapa muda dan mengambil beberapa foto, setelah itu naik ojek ke Karang Taraje. Wow... naik ojek di pinggir pantai seru juga, seram takut tergelincir.



Seorang fotografer sedang memotret keindahan Karang Taraje

Pesona pantai Karang Taraje langsung menyergap, perairannya yang biru, airnya yang bening dengan karang-karang yang bertonjolan. Debur ombak yang membenturkan diri ke karang pecah menyemburkan partikel-partikel putih bak kristal. Menjadi pemandangan yang menakjubkan. Tempat ini bagaikan surga yang tersembunyi dari riuhnya kehidupan dunia. Damai dan menenteramkan.

Jika Tanjung Layar arealnya menyerupai kapal yang terdampar di pantai, Karang Taraje menyerupai panggung pertunjukan. Panggung itu berada dibalik bukit batu. Ada karang besar yang panjangnya kurang lebih seratus meteran, lebar 10 meter dengan tinggi 3-4 meteran. Saya menyebut karang yang menyerupai panggung itu mirip Grand Canyon (mang udah pernah lihat Grand Canyon? Belum! he...). Pada saat ombak datang bergulung gulung membenturkan diri ke karang, akan membuat efek air terjun buatan alam yang menakjubkan. Makanya banyak fotografer yang mendirikan tripod nya di atas batu-batuan dan berharap ombak besar datang untuk merekam detik-detik saat gelombang laut membenturkan diri ke karang dan membuat efek air terjun yang menakjubkan.



Karang Taraje, mirip Grand Canyon kan?



Karang Taraje saat ombak datang membuat air terjun buatan

Tempat ini sangat eksotis sekaligus menjadi tempat yang paling berbahaya jika kita naik ke atas karangnya. Ombak yang besar siap menyambar apapun benda atau bahkan manusia yang ada di atas karang tersebut. Keasyikan memotret kadang jadi lupa dengan bahaya yang mengancam. Cerita-cerita kamera atau orang yang jatuh tersambar ombak menjadi cerita sehari-hari yang disampaikan oleh pemandu.



Jika ombak datang membuat aliran sungai di atas karang

Saya malah penasaran, pengen naik serta melihat pemandangan dari batu karang yang menyerupai panggung besar itu. Ditemani pemandu, saya dan beberapa teman memberanikan diri naik ke atas. ada tangga yang bisa dipakai untuk naik ke atas. Wow... saya seperti artis idola yang sedang pentas di panggung karang. Musiknya adalah deburan ombak dan gemericik air yang mengalir. Jika ombak datang, maka akan ada air yang mengalir bening seperti sungai di permukaan karang itu. Sata kata. Amazing!

Walau capek dan lelah harus berjalan kaki untuk mencapai tempat-tempat wisatanya, tapi kami puas, sudah bisa melihat Hidden Paradise (surga yang tersembunyi) dari pantai-pantai di Sawarna. Suatu saat saya akan datang lagi untuk, membawa peralatan fotografi beserta tripod nya untuk mencoba "Slowspeed" dan bercerita dengan gambar yang lebih indah dengan kamera saya. Nah... jika Anda ingin memanjakan mata dan kamera Anda! Datanglah ke Sawarna



Sawarna masuk dalam 7 wonders atau 7 Keajaiban Nusantara bersama dengan: Desa Kinahrejo Merapi, Tengger Bromo, Ombak Plengkung Alas Purwo, Desa Sade Rambitan Lombok, Dompu NTB dan Pulau Komodo. Dua diantaranya sudah saya kunjungi yakni Pantai Sawarna dan Tengger Bromo. Mimpi saya adalah mengunjungi 5 sisanya. Berharap bisa memenangkan “Terios, 7 Wonders Jelajah 7 Keajaiban Nusantara” Guna melengkapi destinasi wisata saya. “Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukan dunia, berlarilah tanpa lelah, sampai engkau meraihnya....” cuplikan dari syair lagu Laskar Pelangi yang dinyanyikan Nidji menjadi motivasi saya untuk meraihnya. (J)

No comments:

Post a Comment