Monday, September 30, 2013

Cerita dari sawarna: Pesona Tersembunyi Pantai Sawarna


Waktu sudah melewati tengah malam ketika kami sampai kawasan Sawarna.  Bergegas kami masuk ke resort Little Hula-Hula, yang menyewakan bungalow. Alasan kami memilih karena ukuran bungalownya yang dapat menampung 8-10 orang hanya  tariff Rp800.000 per malam. Ada alternatif penginapan lain disekitarnya  dengan tariff yang bervariasi. Apapun yang dipilih, lebih baik menyewa penginapan yg ber-AC, karena udara siang hari yang amat panas.


Lagoon Pari dan Karang Taraje


Letak Pantai Sawarna berada di desa Sawarna, kecamatan Bayah, provinsi Banten. Sawarna memiliki bentang alam yang lengkap serta kondisinya yang belum rusak oleh sentuhan industri wisata secara serampangan. Sebagian besar penduduknya tinggal di di kaki perbukitan.


Wisatawan begitu masuk Desa Sawarna langsung bisa menikmati lokasi pantai Pulau Manuk. Hamparan karang yang tersebar di Pantai Manuk ini sangat disukai wisatawan. Pulau Manuk dikelilingi hutan tropis hijau memberikan kesegaran alam udara pegunungan. Wisatawan bisa menyaksikan sunset yang merupakan pemandangan alam menakjubkan.


Di Sawarna banyak tersedia guide dan kendaran ojek yang bisa mengantarkan ke obyek wisata. Kami memutuskan memakai jasa guide dengan tarif Rp150.000 untuk mengantar ke Lagoon Pari dan Karang Taraje.


Perjalanan ke Lagoon Pari dan Karang Taraje menggunakan mobil sekitar 3 km. Sampai kemudian kami harus melanjutkan dengan berjalan kaki, melalui jalan setapak selama 30 menit. Yang merasa tidak kuat bisa naik ojek dengan membayar Rp25.000. Jalanan berupa batu-batu lepas yang tidak masalah dilewati motor ojek bila kering. Tapi sehabis hujan akan sangat licin. Menurut guide kami, beberapa kali supir ojek dan penumpangnya terjatuh.


Tantangan lainnya adalah menyebrangi jembatan gantung. Asal berani dan berhati-hati, kita bisa melewatinya dengan mudah. Tantangan lainnya adalah jalanan mendaki yang seperti tak ada hentinya.  Semua terbayar begitu  setelah melihat pemandangan yang indah,  yakni Pantai Lagoon Pari.
Pantai Lagoon Pari yang memancarkan sejuta pesona
kala pagi (foto: Rudyanto Arif Wibisono)

Lagoon Pari berpasir putih, padat,  dan membentang panjang hingga Karang Taraje. Kami bisa melihat kehidupan sehari-hari masyarakat pantai. Untuk yang beriwisata dengan anak-anaknya, banyak spot untuk bermain di pantai yang masih bersih. Bermain pasir sangat baik untuk menegmbangan kecerdasan motorik serta imajinasi yang memancing kreativitas. Tapi tetap harus diawasi, karena karakter ombak di pantai selatan yang cukup besar dan bisa tiba-tiba tinggi.

Dari Lagoon Pari, kami menuju ke Karang Taraje yang tak seberapa jauh.  Di pantai ini kami melihat bebatuan karang yang berundak-undak menyerupai tangga. Mungkin itulah sebabnya dinamakan karang Taraje karena dalam bahasa Sunda taraje berarti tangga.

Bentuk yang tak lazim Karang Taraje inilah yang membuat kami bersemangat berfoto-foto. Namun waktu yang terbaik untuk berfoto di kawasan ini adalah saat matahari terbenam.  Sebab di siang hari, cuaca yang terik malah membuat kehilangan pesonanya. Alternatif lain adalah di saat matahri terbit. Jadi, harus berangkat dari penginapan sesubuh mungkin. Kemudian, cari spot yangg menarik, siapkan kamera dan tripod. Sabarlah menunggu. Saat melihat matahari terbit perlahan-lahan segala kelelahan akan terbayar.
Deburan ombak nan indah di Karang taraje.
(foto: Rudyanto Arif Wibisono)

Sayang waktu kami terbatas di Sawarna. Padahal saya ingin sekali berkunjung ke Tanjung Layar. Di dekat Tanjung Layar terdapat bongkahan karang yang berdiri menjulang dengan tegak berbentuk layar. Bongkahan karang ini dikelilingi gugus karang yang melindungi kawasan yang menjulang ini dari hempasan ombak.
Mudah-mudahan ada kesempatan kedua untuk saya berkunjung kembali ke Sawarna.

Tuesday, September 24, 2013

Cerita dari sawarna: KEINDAHAN PANTAI SAWARNA YANG TERSEMBUNYI

Assalamu'alaikum bapak-bapak, ibu-ibu, teman-teman, kawan-kawan, dan kawin-kawin. #Ehmaap

kali ini gue bakal sharing sharing sedikit informasi nih yang gue tau karena gue udah pernah ke sana dan cari cari di internet tentang daerah Sawarna di daerah banten.
Provinsi Banten adalah wilayah yang banyak memiliki beragam obyek wisata budaya dan karakteristik alam yang eksotik untuk di kunjungi. kawasan pantai Sawarna yang lengkap dengan berbagai landscape seperti gunung , hutan dengan tanaman tanaman langkany. sungai dengan corak budayanya yang unik, alamnya terbentang luas dari perbukitan yang landai, bukit karang yang terjal, daratan rendah yang sejajar dengan garis panta, goa goa, hutan tropis pantai, pantai pasir putih, pantai berkarang laut serta pelabuhan tradisional semuanya adalah potensi pariwisata Sawarna yang sangat mengagumkan dan menakjubkan.

Letak Pantai Sawarna berada di desa Sawarna, kecamatan Bayah, provinsi Banten. Sawarna mempunyai bentang alam yang lengkap serta kondisinya yang belum rusak oleh sentuhan tangan yang mengexploitasi secara serampangan. sedangkan tokografi wilayahnya Sawarna memiliki sedikit daratan dan memiliki ketinggian di bawah 10meter atas permukaan laut. sebagian besar penduduk berada di kaki perbukitan. letak pantai Sawarna bisa di tempuh melalui jalan darat dari kota serang - malimping - bayah Sawarna, alternatif kedua dari kota serang - rangkas bitung - gunung kencana - malimping - bayah, alternatif ke tiga kota bogor - pelabuhan ratu - Sawarna.

perjalanan menuju Sawarna
untuk para wisatawan begitu masuk desa Sawarna sudah bisa menikmati lokasi pantai pulau manuk. hamparan karang yang tersebar di pantai manuk ini menjadikan pantai ini banyak di kunjungi para turis asing maupun wisatawan local dari berbagai daerah. pulau manuk ini di kelilingin hutan tropis yang hijau memberikan kesegaran alam udara pegunungan. ada hal yang menakjubkan lagi, wisatawan bisa menyaksikan sunset disini, ini merupakan pemandangan alam yang fantastis dan menakjubkan.

perjalanan menuju pantai Sawarna

suasana pantai Sawarna
menurut gue yang pernah kesana, untuk jalan dari bogor ke Sawarna itu butuh waktu sekitar 15 jam, karena gue transit dulu di pelabuhan ratu karena gue takut terjadi apa apa di jalan karena akses menuju Sawarna itu masih dipenuhi hutan lebat dan jalan yang tidak terlalu lebar. dari pelabuhan ratu ke Sawarna itu butuh waktu sekitar 2 jam baru kita sampe di sebuah parkiran mobil tidak terlalu besar dan sebuah akses jembatan dari kayu dan tali besi untuk penyangga,  setelah kita lewat dari jembatan situ, kita membeli tiket kalo ga salah harganya 5 ribu buat masuk ke dalam, ga sampai disitu kita harus berjalan lagi sekitar 10 menitan, baru deh kita bisa melihat pantai Sawarna yang indah itu.

ombak di Sawarna juga tidak telalu tinggi waktu gue ke sana, tapi kata orang orang di situ, biasanya ombak ombak di pantai Sawarna itu tinggi tinggi lohh
pantai Sawarna
yang pake baju item itu gue
karang di pantai Sawarna
 selain indah, di pantai Sawarna ada karang yang tinggi sekali, kalo pagi sampe siang hari air surut dan kita bisa ke karang tersebut untuk berfoto foto, tapi kalo udah sore atau malem, air laut pasang. 
 oh iya, selain pantainya yang indah,  Sawarna juga memili tempat wisata goa. Salah satu goa yang sudah cukup terkenal di Sawarna adalah Goa Lalay. Goa Lalay yang terletak di kaki Bukit Pasir Tangkil ini masuk kedaerah Kampung Cipanas di desa wisata Sawarna. Lokasi Goa Lalay ini kurang lebih 2 KM dari desa Cikaung yang merupakan penginapan di Sawarna berada.
Lalay merupakai bahasa sunda yang berarti kelelawar karena disana dulunya banyak kelelawar. Mulut goa Lalay cukup lebar, tetapi atapnya rendah.
Ketika akan memasuki goa ini haru berhati-hati karena goa di aliri sungai kecil  tapi kalau salah melangkah bisa terperosok hingga basah sepinggang  dan lumpurnya sangat licin. apalagi Menurut infomasi masyarakat lokal, di Goa lalay itu pernah ada ular yang cukup besar.
Goa Lalay sudah mulai dikunjungi wisatawan sejak tahun 2000. Panjang Goa yang bisa dikunjungi hanya sepanjang 250 meter saja dari pintu goa karena semakin dalam semakin mengecil. Panjang goa ini diperkirakan mencapai 10 hingga 15 kilometer.
goa lalay
Untuk menuju ke goa Lalay bisa berjalan kaki bisa juga Naik Ojek. Goa Lalay lebih mudah diakses dengan menggunakan ojek ketimbang berjalan kaki, karena lokasinya memang cukup jauh. Dengan membayar 20 – 30 ribu, kita bisa diantar jemput ke goa lalay ini.
Untuk masuk ke goa, kita dikenakan biaya masuk sebesar Rp. 2.000,- /orang. Dipos masuk, kita juga bisa menyewa head lamp atau senter untuk menjelajahi goa. Untuk sewa tersebut kita dikenakan biaya Rp. 5.000,-.
selain goa lalay Berwisata ke pantai Sawarna rasanya kurang afdol bila tidak mengunjungi kawasan wisata pantai Goa Langir, Sawarna. Tempat ini memang lumayan jauh dari pantai cantil, goa lalay dan Pantai Tanjung Layar. Tak heran bila tak banyak pengunjung datang ke tempat ini.
Tapi saat kamu berkunjung ke tempat ini banyak spot yang bagus untuk mengambil foto. Misalnya, pantai langir. Panta langir yang tak kalah cantiknya dengan Pantai Tanjung Layar. Pantai ini terletak di garis pantai Sawarna. Keunggulan dari pantai langir adalah pantai ini bisa di akses dengan kendaraan pribadi baik mobil maupun motor dan kamu bisa menaruhnya tepat di depan pantai langir.
Di pantai langir, kamu bisa berkunjung ke goa langir, goa seribu candi, spot panjat tebing dan camping. Gimana? Seru bukan.  Saat masuk ke goa seribu candi, kamu akan melihat stalagmit dan stalagtit, panjang goa ini ± 30 meter.
Betul-betul menakjubkan bayangin saja goa ini tak begitu luas tapi memiliki banyak candi di dalamnya. Melihat lebih dekat di goa seribu candi kamu pasti akan terkagum melihat keindahan ornamen goa yang ada di goa seribu candi.

 dan Sawarna adalah salah satu pantai yang harus di kunjungi para wisatawan, capek yang kalian rasain di perjalanan pasti kebayar deh sama keindahan pantai nya yang indah banget:)

happy holiday masbrooh :))

Wednesday, September 11, 2013

Cerita dari Sawarna: Memanjakan Mata dan Kamera di Sawarna

Sawarna, nama yang tak asing bagi pencinta traveling dan fotografi landscape. Namanya begitu terkenal, karena seringnya orang membicarakan dan meng-upload foto foto landscape keindahan pantai-pantai di Sawarna. Ombaknya yang besar sangat cocok bagi yang senang olahraga surfing (Selancar). Bahkan sudah dikenal sampai mancanegara dengan banyaknya turis asing yang menyambangi pantai ini. Jika anda ingin memanjakan mata dan kamera anda, datanglah ke Sawarna.

Seringkali saya salah menyebut Sawarna dengan Sarwana. Sampai suatu kali saya bertanya kepada teman “yang benar pantai Sawarna atau Sarwana sih?” teman saya malah menertawakan saya, “Pantai Sawarna, kalau Sarwana kan penyanyi Elfa’s Singer he...”

Letaknya yang tidak jauh dari Jakarta, biaya trip yang tidak mahal (hanya Rp. 700,000), pemandangan alam yang indah, menjadi alasan utama untuk nge-trip kesana.

Gayung pun bersambut, kebetulan ada penawaran dari travel agent untuk nge-trip ke sana. Impian yang sudah terpendam lama untuk mengunjungi Sawarna bakal terwujud.

Saya pun mengontak teman-teman yang sudah terbiasa nge-trip bareng. Banyak teman yang tidak bisa ikut, dengan berbagai alasan. Ada yang kebetulan waktunya bersamaan nge-trip ke luar negeri atau belum lama nge trip ke daerah lain. Mentok hanya tiga orang termasuk saya yang akhirnya pergi.

Saat sampai di Hokben Kartika Chandra tempat meetingpoint, belum ada peserta yang datang, hanya Maria teman trip yang sudah datang dan sedang makan. Saya pun memesan satu paket makanan karena belum makan dari rumah.

Satu persatu peserta berdatangan, mereka berombongan bersama dengan teman-teman trip nya. Total peserta 18 orang, termasuk pemilik travel, Mbak Nina. Jam setengah sepuluh malam, kami menaiki mobil elf putih menuju ke arah Sukabumi. Perjalanan sangat lancar karena tidak terkena macet.

Rasa capek, membuat peserta trip tertidur dengan pulasnya. Saya terbangun saat jalan mulai naik-turun, menikung ke kiri dan ke kanan. Entah sudah sampai dimana. Terlalu gelap untuk mengenali daerah yang kami lewati. Hanya sorot lampu kendaraan yang menunjukkan jalan beraspal yang harus kami lewati.



Penginapan yang kami tempati

Jam setengah empat pagi, kami sudah sampai di Sawarna. Kami sampai lebih cepat dari perkiraan. Hanya 6 jam dari prediksi 7-8 jam perjalanan dari Jakarta. Penginapan yang kami tempati berupa rumah panggung yang ramah lingkungan karena menggunakan bahan kayu dan berdinding anyaman bambu, beratapkan ijuk. Dari papan nama tertulis “Sawarna, Little Hula Hula Cottage & Cafe.”

Karena peserta laki-lakinya hanya dua orang, saya dan Yunaidi, kami mendapat kehormatan menempati satu cottage, sementara yang perempuan di dua cottage sisanya. Untuk menghemat tenaga kami langsung melanjutkan tidur. Zzzz.....



Pemandangan sawah di belakang penginapan

Mentari pagi, membangunkan kami. Hawa yang sejuk dengan pemandangan alam pedesaan langsung menyergap panca indera. Aroma angin pantai langsung tercium, pantai berpasir putih dengan pohon nyiurnya terpampang nyata di depan penginapan, sayup-sayup terdengar deburan ombaknya. Sementara di belakang penginapan pegunungan dengan pohon-pohonan yang lebat dan hamparan sawah yang menghijau berundak-undak seolah-olah sedang mendaki bukit. Cakrawala pun membiru menjadi latar menghijaunya alam.

Desa Sawarna, terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Berbatasan langsung dengan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Setelah sarapan, trip ke pantai-pantai di Sawarna pun dimulai. Pantai Pertama yang akan kami kunjungi adalah Pantai Ciantir. Dari tempat parkir masih harus berjalan kurang lebih 1 km untuk mencapai pantai. Kami melewati jembatan gantung yang melintang di sungai dan akan bergoyang goyang saat melewatinya. Rumah-rumah penduduk desa Cikaung (nama desa yang saya lewati) umumnya sudah disulap menjadi homsestay/rumah penginapan, seiring makin banyaknya jumlah wisatawan yang berkunjung kesana. Inilah obyek-obyek wisata yang kami kunjungi selama di Sawarna.

1. Pantai Ciantir

Pantai Ciantir, memiliki pantai berpasir putih dengan deburan ombak yang besar. Gemuruh ombaknya menderu-deru tinggi menerjang pantai. Pantai ini lebih cocok sebagai tempat untuk kegiatan olahraga. Sarana olahraganya pun tersedia seperti Volly Pantai dengan net yang melintang di tepi pantai atau sekedar bermain sepakbola di pasir putihnya yang luas. Mau berenang rasanya seram, melihat ombaknya yang besar, harus punya nyali dan berhati-hati agar tidak tergulung ombak dan terhempas. Kecuali anda ingin belajar olahraga surfing. Tak satupun dari kami yang berani terjun ke laut. Kami hanya melihat dengan mata kamera saja.



Pantai Ciantir yang terbelah dua

Di Pantai Ciantir, ada bagian dari pantainya yang terbelah menjadi dua bagian oleh selokan yang menyerupai sungai. Air nya bening bak kaca, jika kita berdiri diseberang selokan, akan terlihat bayangan, bagaikan di depan cermin, obyek yang menarik untuk fotografi. Jika ombak berlarian ke pantai akan seperti riak air yang beresonansi, berkejar-kejaran, wow indahnya. Pembelahan pantai oleh selokan itu membuat pantai menjadi lebih eksotis. Musa membelah air laut menjadi dua, selokan itu membelah pantai Ciantir menjadi dua. Amazing!

2. Pantai Tanjung Layar



Tanjung Layar saat air laut pasang

Selanjutnya kami menyusuri jalan yang masih segaris dengan pantai Ciantir. Kurang lebih 1 km jaraknya dari Pantai Ciantir. Pantai yang menjadi ikon Sawarna, Tanjung Layar. Pantai ini adalah pantai karang. Ada dua batuan yang menyerupai dua layar yang terkembang buatan alam dengan dinding-dinding karang di sekitarnya. Saat kami sampai disana, air laut sedang pasang, jadi kami tidak bisa mencapai batu-batuan yang menyerupai layar. Jarak batu layar dari bibir pantai kurang lebih lima puluhan meter. Mbak Nina, tourguide kami berkata: “Air pasang terjadi pada pagi sampai kurang lebih jam 2 siang, nanti sore kita datang lagi ke sini untuk menyaksikan sunset, airnya pasti sudah surut dan kita bisa menyeberang mendekati dua batu layar itu!” mbak Nina menghibur kami yang kelihatan kecewa karena tidak bisa menyeberang mendekati batu layar.



Tanjung Layar saat air tidak pasang

Setelah pulang dari Gua Lalay, kami kembali ke Pantai Tanjung Layar. Kali ini tidak berjalan kaki melainkan naik ojek motor yang banyak tersedia disana. Ternyata benar, air laut sudah surut. Karang di seputar batu layar sudah bisa dilewati. Ketika sampai disana sudah banyak rombongan yang akan menyaksikan senja di Sawarna. Tempat ini memang indah untuk memanjakan mata dan kamera. Setiap sudut menyajikan detil obyek dan warna yang berbeda. Begitu menceburkan diri ke pantai, langsung disambut bayangan yang memantulkan batu layar di air yang bening. Karang-karang bertonjolan dengan cekungan air ditempeli oleh rumput laut yang berwarna hijau kekuning-kuningan rebah di dasar air. Menambah eloknya pantai Tanjung Layar.



Menyaksikan senja di Tanjung Layar

Terlebih saat mendekati dua batu yang menyerupai layar, cahaya senja membuat batu-batuan itu berwarna kuning keemasan, menambah kesan megah. Lantai dari karang di seputar batu layar (kira-kira seluas lapangan bola), membentuk pola-pola grafiti abstrak yang indah. Digenangi sisa-sisa air yang memantulkan apa saja obyek yang ada di atasnya. Batu Layar itu dibentengi oleh dinding karang yang akan memucratkan air jika berbenturan dengan ombak yang besar. Suaranya menggelegar, menakutkan. Tempat ini seperti kapal besar yang terdampar di pantai dengan menyisakan layar dan dinding kapalnya.



Grafiti senja di Tanjung Layar



Senja di Tanjung Kayar

Di ujung Barat, para penikmat fotografi berjejer mendirikan tripod, “menyiksa” kamera dengan slowspeed nya. Merekam saat-saat terakhir matahari meninggalkan cakrawala, masuk ke peraduannya. Satu kata, Spekta banget, sunsetnya indah, sungguh indah banget!. Pantas saja, pantai ini masuk dalam daftar 7 wonders, 7 keajaiban Nusantara.

3. Goa Lalay

Goa Lalay atau Goa Lawa adalah tempat ketiga yang kami kunjungi. Untuk mencapai lokasi, kami harus berjalan kaki melewati alam pedesaan yang asri dengan pemandangan persawahan dan bunyi gemericik air. Pemandangan yang indah membuat langkah kaki menjadi ringan. Sesampai di mulut goa, kami terpana, karena mulut goanya kecil, hanya setinggi manusia. Dasar goanya dialiri air sungai yang bening. Sudah sampai di sana, tanggung kalau tidak masuk ke dalamnya. “Sandalnya dilepas saja, bawahnya berlumpur takut tertinggal,” kata mas pemandu sambil menyorotkan senter ke pintu goa. Melepas sendal, menitipkan kamera, kami pun masuk ke dalam.



Pintu masuk Goa Lalay

Kegelapan langsung menyergap. Goa itu ternyata sangat luas dan panjang. Stalaktit nya sudah mati. Aroma mistis langsung membuat bulu kuduk berdiri, menyeramkan! apalagi hanya sang pemandu yang membawa senter. Serasa sedang menjalani uji nyali. Langsung membayangkan film-film horor yang membunuh satu per satu korbannya yang posisinya paling belakang hiiii.... seram! (kebanyakan nonton film horor nih). Kami hanya sampai di tengah goa, karena makin ke dalam makin horor suasananya.

4. Laguna Pari dan Karang Taraje



Laguna Pari ombaknya sangat besar

Untuk mencapai kedua pantai ini, kami harus berjalan kurang lebih 3-4 kilo dari desa Cikaung. Jalanannya berbatu tajam dan licin. Naik turun melalui jalan pedesaan, panas mentari yang menyengat membuat cepat lelah. Tapi rasa capek dalam perjalanan akan terbayar lunas jika sudah sampai ke pantai. Tipikal kedua pantai ini mirip dengan Pantai Ciantir dan Tanjung Layar. Pantai Laguna Pari berpasir putih dcngan ombaknya yang besar cocok untuk olahraga surfing, satu tipe dengan pantai Ciantir. Sementara Karang Taraje mirip dengan Tanjung Layar, yakni pantai karang.

Kami tidak berlama-lama di Laguna Pari hanya minum air kelapa muda dan mengambil beberapa foto, setelah itu naik ojek ke Karang Taraje. Wow... naik ojek di pinggir pantai seru juga, seram takut tergelincir.



Seorang fotografer sedang memotret keindahan Karang Taraje

Pesona pantai Karang Taraje langsung menyergap, perairannya yang biru, airnya yang bening dengan karang-karang yang bertonjolan. Debur ombak yang membenturkan diri ke karang pecah menyemburkan partikel-partikel putih bak kristal. Menjadi pemandangan yang menakjubkan. Tempat ini bagaikan surga yang tersembunyi dari riuhnya kehidupan dunia. Damai dan menenteramkan.

Jika Tanjung Layar arealnya menyerupai kapal yang terdampar di pantai, Karang Taraje menyerupai panggung pertunjukan. Panggung itu berada dibalik bukit batu. Ada karang besar yang panjangnya kurang lebih seratus meteran, lebar 10 meter dengan tinggi 3-4 meteran. Saya menyebut karang yang menyerupai panggung itu mirip Grand Canyon (mang udah pernah lihat Grand Canyon? Belum! he...). Pada saat ombak datang bergulung gulung membenturkan diri ke karang, akan membuat efek air terjun buatan alam yang menakjubkan. Makanya banyak fotografer yang mendirikan tripod nya di atas batu-batuan dan berharap ombak besar datang untuk merekam detik-detik saat gelombang laut membenturkan diri ke karang dan membuat efek air terjun yang menakjubkan.



Karang Taraje, mirip Grand Canyon kan?



Karang Taraje saat ombak datang membuat air terjun buatan

Tempat ini sangat eksotis sekaligus menjadi tempat yang paling berbahaya jika kita naik ke atas karangnya. Ombak yang besar siap menyambar apapun benda atau bahkan manusia yang ada di atas karang tersebut. Keasyikan memotret kadang jadi lupa dengan bahaya yang mengancam. Cerita-cerita kamera atau orang yang jatuh tersambar ombak menjadi cerita sehari-hari yang disampaikan oleh pemandu.



Jika ombak datang membuat aliran sungai di atas karang

Saya malah penasaran, pengen naik serta melihat pemandangan dari batu karang yang menyerupai panggung besar itu. Ditemani pemandu, saya dan beberapa teman memberanikan diri naik ke atas. ada tangga yang bisa dipakai untuk naik ke atas. Wow... saya seperti artis idola yang sedang pentas di panggung karang. Musiknya adalah deburan ombak dan gemericik air yang mengalir. Jika ombak datang, maka akan ada air yang mengalir bening seperti sungai di permukaan karang itu. Sata kata. Amazing!

Walau capek dan lelah harus berjalan kaki untuk mencapai tempat-tempat wisatanya, tapi kami puas, sudah bisa melihat Hidden Paradise (surga yang tersembunyi) dari pantai-pantai di Sawarna. Suatu saat saya akan datang lagi untuk, membawa peralatan fotografi beserta tripod nya untuk mencoba "Slowspeed" dan bercerita dengan gambar yang lebih indah dengan kamera saya. Nah... jika Anda ingin memanjakan mata dan kamera Anda! Datanglah ke Sawarna



Sawarna masuk dalam 7 wonders atau 7 Keajaiban Nusantara bersama dengan: Desa Kinahrejo Merapi, Tengger Bromo, Ombak Plengkung Alas Purwo, Desa Sade Rambitan Lombok, Dompu NTB dan Pulau Komodo. Dua diantaranya sudah saya kunjungi yakni Pantai Sawarna dan Tengger Bromo. Mimpi saya adalah mengunjungi 5 sisanya. Berharap bisa memenangkan “Terios, 7 Wonders Jelajah 7 Keajaiban Nusantara” Guna melengkapi destinasi wisata saya. “Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukan dunia, berlarilah tanpa lelah, sampai engkau meraihnya....” cuplikan dari syair lagu Laskar Pelangi yang dinyanyikan Nidji menjadi motivasi saya untuk meraihnya. (J)

Wednesday, September 4, 2013

Cerita dari Sawarna: “Surga” bernama Sawarna

Berawal dari membaca suatu majalah yg memuat artikel mengenai Desa Sawarna, membuat saya tertarik utk mengetahui lebih lanjut mengenai tempat tsb.

Dari hasil “googling” mengenai Desa Sawarna ini, satu yg paling menakjubkan adalah bahwa Sawarna ini pernah masuk dalam tayangan “On the Spot” Trans7 sebagai salah satu dari 7 Surga Tersembunyi di Indonesia.
Image
Akhirnya saya dan teman2 pun merencanakan utk pergi liburan ke sana, Namun karena tak satu pun dari kami yg mengetahui dimana persisnya letak desa sawarna berada, kami seperti hendak berlibur ke tempat yg asing dan meraba2 wilayahnya, oleh karenanya kami rencanakan trip ini dgn tagline “in search of hidden paradise”.

Ditentukanlah tgl 15-16 Juni 2012 kemarin sebagai waktu utk search of hidden paradise ini. Kami berangkat dgn team berjumlah 17 org dgn 2 mobil minibus.

Sesuai infonya bahwa utk ke sana bisa ditempuh dgn 2 jalur, yaitu Via Malingping dan Via Pelabuhan Ratu, maka utk lebih “adil” kami memutuskan utk pergi melalui jalur Malingping dan akan pulang melalui jalur Pelabuhan Ratu.

PERJALANAN PERGI
Keluar pintu toll Serang Timur, kami menyusuri jalan raya serang yg mengarah ke Malingping. Namun akibat buruknya kondisi jalan di daerah Malingping, jalur pergi yg harusnya mungkin bisa di tempuh dlm waktu 4-5 jam saja, harus kami lalui selama -+ 6,5 jam.

Akhirnya tibalah kami di pertigaan Bayah, dimana satu jalur menuju Pelabuhan Ratu dan satu lagi menuju Desa Sawarna, kami pun masuk melalui jalur arah Desa Sawarna.

Karena kondisi malam hari, kami cuma bisa melihat bahwa di kanan kiri kami cuma hutan belantara dgn pohon2 yg menjulang tinggi, dgn kondisi jalan yg berkelok naik turun dan di perparah dgn kondisi sebagian jalannya yg rusak, walaupun sepertinya sedang dalam tahap perbaikan karena banyak terdapat plang2 dari Dep PU soal perbaikan jalan.

Setelah di tempa dgn sedikit “kengerian” krn kondisi jalan yg gelap dan agak rusak, tibalah kami di desa sawarna.

DESA SAWARNA
Setibanya disana, kami disambut Pak Andri, pemilik Andrew Batara Homestay. Sebelumnya, saya sudah berkali2 kontak dgnnya melalui no tlp dia yg saya peroleh dari hasil googling.

Berhubung hari itu di tempatnya penuh, Pak Andri pun “memasukkan” kami ke homestay milik kakaknya, Pak Asep yg bernama Millang Homestay.

Setelah memarkirkan kendaraan kami, kami pun masuk ke Desa “wisata” Sawarna. Di sambut dgn Jembatan Gantung yg menghubungkan Sawarna dgn jalan raya, dimulailah petualangan kami dalam mencari surga yg tersembunyi di Sawarna.

Di sepanjang jalan desa sawarna menuju homestay, kami temukan bahwa tempat ini memang masih amat “suci” dari tangan2 komersialisme swasta.

Di tempat ini tdk ada hotel yg membuat warga sekitar akhirnya memutuskan utk menjadikan / memodifikasi rumahnya sebagai tempat penginapan (homestay) wisatawan.
Sesampainya di Millang homestay dan mandi, kami pun di sambut dgn makan malam Ikan bakar dgn sambal yg sedap khas Sawarna.

Selesai makan malam kami pun ngobrol2 di penginapan sambil sebagian lagi beristirahat utk acara “pencarian” esok hari. Suasana malam di penginapan di hiasi dgn taburan ribuan bintang di langit dan suara2 katak yg bersahutan.

Suasana homestay-nya meskipun dibuat dengan sederhana, tapi sangat nyaman dengan fasilitas yg cukup memadai.


PAGI DI SAWARNA
Akhirnya, pagi pun tiba. Di mulailah misi kami menjelajahi tempat yg banyak disebut sebagai “the hidden paradise” ini. Saat fajar tiba, pemandangan langit cukup menyejukan mata dgn semburat langit yg menciptakan pesona di mata.

Berjalanlah kami menyusuri persawahan dan ladang jagung & singkong yang juga di penuhi oleh pohon kelapa yg menjulang tinggi, tempat pertama yg kami tuju adalah pantai terdekat dari homestay, “Pantai Ciantir”.
Pantai ini cukup luas dengan hamparan pasir pantai yang luas dan deburan ombak2 besar khas pantai selatan, cukup mengenyangkan untuk “sarapan pagi” kami.
Setelah puas bermain2 di Ciantir, kami pun melanjutkan perjalanan ke arah “Tanjung Layar”. Kami pun berjalan menyusuri pantai ciantir menuju ke selatan. Perjalanan menyusuri pantai cukup indah karena dimanjakan dengan pemandangan ombak2 besar  dan batu2 karang yg banyak terdapat di bibir pantai.
Akhirnya tibalah kami di Tanjung Layar. Sebuah tempat dgn 2 batu karang yg tinggi menjulang dan salah satunya berbentuk seperti layar. Bagusnya di depan Tanjung Layar ini ada beberapa warung yg bisa dijadikan untuk tempat beristirahat sekaligus melepas lelah & haus dahaga.
Setelah puas berfoto2 ria dan menikmati pemandangan disana, kami memutuskan untuk balik ke homestay dulu untuk sarapan pagi. Setelah sarapan & mandi, baru kami akan melanjutkan perjalanan menuju Legon Pari, pantai pasir putih yg merupakan “the real hidden paradise” di tempat ini. hal tsb dikarenakan selain jarak tempuh yg mencapai 2-3 km dari desa, tempat tsb hanya bisa di lalui melalui 2 rute. bisa dgn berjalan kaki naik turun menyusuri perbukitan dan rute lainnya adalah dengan menyusuri pinggiran pantai dari arah Tanjung Layar ke arah timur.
THE REAL HIDDEN PARADISE
Setelah sarapan pagi, mandi dan beristirahat sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan menuju “Legon Pari”, the best spot on this place. kami ber 17 orang berjalan menyusuri pinggiran pantai yang di penuhi batuan2 dan karang2 yg eksotik. Pinggiran pantai tersebut cukup terlindungi oleh deretan karang2 besar yang menjadi semacam pemecah ombak sebelum ombak menuju ke pinggiran pantai. Yang lebih mengagumkan lagi, di beberapa bagian di pinggiran pantai tersebut seperti terdapat jalanan berbeton yang terbuat alami dari batuan2 yang mungkin mengalami erosi dari air laut, sehingga memudahkan kami untuk berjalan di bibir pantai.
Setelah melalui perjalanan yg cukup melelahkan karena terik matahari yg cukup menyengat dan berjalan pelan melewati bebatuan karang dan melewati beberapa tikungan lekukan pantai, tibalah kami di Karang Beureum (Karang Merah), salah satu ikon di daerah pantai Legon Pari. diberi nama karang merah, karena di atas salah satu deretan karangnya terdapat sebuah batu karang berwarna merah yang terlihat cukup jelas meskipun dari jarak jauh. kami pun beristirahat di sebuah warung persis di depan Karang Beureum tsb.
Dari pemilik warung dan Bpk Herdi, seorang warga yg ada disana,  kami banyak memperoleh informasi mengenai tempat2 dan sejarah Desa Sawarna. Salah satu informasi yg menarik adalah, sebagian besar warga sawarna sendiri, hingga saat ini belum tahu kalau saat ini sawarna sedang banyak mendapat sorotan dan rekomendasi positif di banyak media massa.
Setelah beristirahat di Karang Beureum, kami pun menghabiskan waktu di Legon Pari, bermain di hamparan pasir putih yg masih perawan dan mandi di laut yang ombaknya jauh lebih tenang dari di Ciantir.
Bisa dibilang, Legon Pari adalah the real hiiden paradise dari Desa sawarna, karena lokasinya yang memang agak tersembunyi dan hamparan pantainya yang masih perawan dan amat sangat memanjakan mata.
Setelah puas bermain di “surga”, kami pun memutuskan untuk pulang ke homestay. Rute kali ini kami pilih melewati perbukitan. Rute ini kami tempuh dgn naik turun 2 bukit yang di pisahkan kali yg harus kami seberangi dgn jembatan gantung yang cukup menguji nyali karena keliatannya lebih ringkih ketimbang jembatan gantung yg di gerbang desa sawarna saat pertama kali kami tiba.
Sebagian perbukitan tersebut di tanami tanaman2 kelapa, singkong & jagung. juga melintasi beberapa rumah penduduk yg masih hidup dgn bercocok tanam atau juga memelihara hewan ternak seperti kerbau dan kambing. Sungguh cukup melelahkan namun juga menyenangkan karena pemandangannya yang indah.
Setelah sampai di homestay dan makan siang, kami istirahat sejenak sekaligus siap2 utk pulang ke Jakarta.

selengkapnya http://tjsiez.wordpress.com/2013/09/04/surga-bernama-sawarna/