pantai sawarna terletak di pesisir selatan Propinsi Banten, yang sudah dikenal memiliki banyak pantai yang indah. Jika dibandingkan dengan Pantai Anyer, maka pantai sawarna termasuk baru dalam ranah pariwisata Propinsi tersebut. Pantai tersebut baru mulai dikenal oleh wisatawan lokal sejak tahun 2000. Jika dilihat posisinya, pantai tersebut sejajar dengan Pelabuhan Ratu atau masih berada dalam satu garis pantai.
Yang membuat pantai sawarna berbeda adalah, wisatawan harus menyeberang dahulu menuju Desa Sawarna lewat sebuah jembatan kayu gantung. Jembatan tersebut melintas di atas sebuah sungai yang membelah memisahkan daerah pantai dengan daerah sebelumnya. Jadi bisa dikatakan bahwa jembatan tersebut adalah gerbang menuju pantai.
Dari arah Jakarta, ada 2 alternatif jalan yang bisa ditempuh oleh wisatawan. Yaitu melalui arah barat via Pandeglang, dan dari arah selatan via Pelabuhan Ratu di Sukabumi terus menyusuri pesisir ke selatan. Lebih cepat Anda mengambil rute yang melewati Pelabuhan Ratu, sebab hanya menghabiskan waktu sekitar 4-5 jam dengan kendaraan pribadi.
pantai sawarna unik karena adanya pulau karang yang menjulang di dekat bibir pantai. Terdapat pula sebuah gua bernama Laylay, yang penuh dengan kelelawar yang bersarang di dalamnya. Ada juga Pulau Bokor dan Pulau Manuk yang bisa Anda kunjungi di Pantai berpasir putih tersebut.
Jika ingin menginap, penduduk setempat juga telah membuat beberapa buah penginapan yang tarifnya cukup murah, yaitu mulai Rp 120.000 per malam. Tentunya fasilitasnya standar penginapan sederhana, ya.
Jadi tunggu apa lagi, selamat berlibur ke pantai sawarna, Banten.
sumber: sidomi.com
Desa Sawarna
Thursday, January 9, 2014
Wednesday, January 8, 2014
Cerita dari Sawarna: Desa Sawarna `Hidden Paradise In Banten`
Sawarna akhir-akhir ini menjadi pembicaraan karena pesona alamnya yang begitu memukau hingga disebut-sebut sebagai "Banten Balinese".
Desa Sawarna berada di Kecamatan Bayah, Provinsi Banten. Desa ini memiliki bentangan alam yang sangat memukau mulai dari pantai, batuan karang, bukit, hutan lindung hingga goa pun ada di desa wisata ini.
Salah satu pesona dari Desa Sawarna adalah pantai Ciantir dengan barisan pasir putih dan deretan pohon kelapa serta ombak laut yang menawan. Pantai ini paling banyak dikunjungi oleh wisatawan yang datang ke Desa Sawarna. Selain karena pesonanya yang indah, pantai ini juga dekat dengan penginapan yang ada di sana. Pantai tanjung layar juga memberikan kesejukan bagi siapa saja yang memandangnya. Bentangan karang mengelilingi pantai ini, dengan 2 karang yang menjulang tinggi ke atas dan menjadi ikon dari Sawarna.
Meskipun jarak pantai ini cukup jauh dibandingkan dengan Pantai Ciantir, hal ini bukan merupakan masalah bagi para wisatawan yang datang. Jarak yang cukup jauh akan terbayar lunas ketika melihat ikon dari Desa Sawarna tersebut.
Selain pantai, di Desa Sawarna juga terdapat goa yang dikenal dengan "Goa Lalay". Lalay dalam bahasa sunda berarti kelelawar. Dinamakan Goa Lalay karena konon katanya goa ini dulunya banyak kelelawar. Meskipun goa ini terbilang jauh, namun tetap banyak para wisatawan yang datang untuk melihat dinding dalam goa yang menyerupai stalagtit yang sangat mempesona.
Tidak hanya pantai dan goa saja, Desa Sawarna memiliki bukit yang berada dekat dengan pantai Tanjung Layar. Masyarakat menamakannya Bukit 1000 tangga. Dengan menaiki bukit ini, kita akan disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Dari atas Bukit 1000 Tangga, kita dapat melihat Pantai Ciantir dan Pantai Tanjung Layar serta bentangan alam hijau yang terdapat disekitar kedua pantai tersebut.
Untuk sampai ke Desa Wisata Sawarna ini, terdapat 2 rute yang dapat dilewati. Rute pertama yaitu melewati Kota Serang dengan rute Serang Timur-Pandeglang-Malimping-Bayah-Sawarna. Rute ini terbilang pendek dibandingkan rute yang kedua, namun karena kondisi jalan yang rusak, untuk melewati rute ini memakan waktu yang lama. Rute 2 yaitu melewati Pelabuhan Ratu, dengan rute Ciawi-Cibadak- Pelabuhan Ratu-Sawarna. Rute ini memiliki jalanan yang cukup mulus, tapi dengan jalan yang berkelok-kelok dan tanjakan yang cukup curam.
Desa wisata Sawarna cocok untuk menjadi salah satu list yang harus dikunjungi bagi wisatawan lokal maupun mancanegara, dan bagi Anda para pecinta fotografi. Karena desa ini menyuguhkan bentang alam memukau dan masih sangat alami. (Syaiful Millah/mar)
Syaiful Milah, Mahasiswa Ilmu KomunikasiUniversitas Diponegoro dan pewarta warga.
Desa Sawarna berada di Kecamatan Bayah, Provinsi Banten. Desa ini memiliki bentangan alam yang sangat memukau mulai dari pantai, batuan karang, bukit, hutan lindung hingga goa pun ada di desa wisata ini.
Salah satu pesona dari Desa Sawarna adalah pantai Ciantir dengan barisan pasir putih dan deretan pohon kelapa serta ombak laut yang menawan. Pantai ini paling banyak dikunjungi oleh wisatawan yang datang ke Desa Sawarna. Selain karena pesonanya yang indah, pantai ini juga dekat dengan penginapan yang ada di sana. Pantai tanjung layar juga memberikan kesejukan bagi siapa saja yang memandangnya. Bentangan karang mengelilingi pantai ini, dengan 2 karang yang menjulang tinggi ke atas dan menjadi ikon dari Sawarna.
Meskipun jarak pantai ini cukup jauh dibandingkan dengan Pantai Ciantir, hal ini bukan merupakan masalah bagi para wisatawan yang datang. Jarak yang cukup jauh akan terbayar lunas ketika melihat ikon dari Desa Sawarna tersebut.
Selain pantai, di Desa Sawarna juga terdapat goa yang dikenal dengan "Goa Lalay". Lalay dalam bahasa sunda berarti kelelawar. Dinamakan Goa Lalay karena konon katanya goa ini dulunya banyak kelelawar. Meskipun goa ini terbilang jauh, namun tetap banyak para wisatawan yang datang untuk melihat dinding dalam goa yang menyerupai stalagtit yang sangat mempesona.
Tidak hanya pantai dan goa saja, Desa Sawarna memiliki bukit yang berada dekat dengan pantai Tanjung Layar. Masyarakat menamakannya Bukit 1000 tangga. Dengan menaiki bukit ini, kita akan disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Dari atas Bukit 1000 Tangga, kita dapat melihat Pantai Ciantir dan Pantai Tanjung Layar serta bentangan alam hijau yang terdapat disekitar kedua pantai tersebut.
Untuk sampai ke Desa Wisata Sawarna ini, terdapat 2 rute yang dapat dilewati. Rute pertama yaitu melewati Kota Serang dengan rute Serang Timur-Pandeglang-Malimping-Bayah-Sawarna. Rute ini terbilang pendek dibandingkan rute yang kedua, namun karena kondisi jalan yang rusak, untuk melewati rute ini memakan waktu yang lama. Rute 2 yaitu melewati Pelabuhan Ratu, dengan rute Ciawi-Cibadak- Pelabuhan Ratu-Sawarna. Rute ini memiliki jalanan yang cukup mulus, tapi dengan jalan yang berkelok-kelok dan tanjakan yang cukup curam.
Desa wisata Sawarna cocok untuk menjadi salah satu list yang harus dikunjungi bagi wisatawan lokal maupun mancanegara, dan bagi Anda para pecinta fotografi. Karena desa ini menyuguhkan bentang alam memukau dan masih sangat alami. (Syaiful Millah/mar)
Syaiful Milah, Mahasiswa Ilmu KomunikasiUniversitas Diponegoro dan pewarta warga.
Monday, January 6, 2014
Cerita dari sawarna: Sawarna Beach ==> Kuta van Java
Editor Note: ini postingan cerita sawarna dari http://sukangemilpunya.wordpress.com. cerita selengkapnya di baca di bawah ini.
Saya dan teman saya berenam ke sana naik motor, jadinya ada 3 motor..Kami berangkat dari tempat kumpul di tanjung barat jam 8 lewat sepertinya, karena nunggu 1 teman saya lama banget..Dengan prediksi waktu tempuh sekitar 8 jam paling lama, akhirnya kami berangkat..Bismillahirrohmanirrohim..
Kami berangkat lewat bogor terus ke sukabumi..naik turun gunung trus naik turun gunung lagi..alhamdulillahnya tidak macet..Dan kita juga jalan dengan kecepatan normal biasa..Tracknya itu lho keren bangeeeeeeeettt..berasa naik roller coaster, tanjakan tajam trus tahu-tahu langsung turunan tajam plus tikungan tajam, kiri itu jurang, kanan itu hutan tebing apa gitu udah tidak jelas..wiiiihhhh mantep banget pokoknya..Terus kita juga ngelewatin gunung yang isinya itu pohon kepala sawit..keren pemandangannya..Untungnya jalanannya itu sudah aspal walaupun masih banyak yang bolong-bolong..
Kita sempat bingung arah, pas sampai apa ya lupa namanya, karena teman yang jadi penuntun jalan lupa arah hehehe..Itu kondisi siang bolong, laper pula, nanya orang tapi yang ditanya tidak tahu karena bukan orang situ katanya..Akhirnya kita melanjutkan perjalanan dengan mengandalkan GPS..Alhamdulillahnya tidak nyasar..
Singkat cerita, sampailah kita di kawasan pelabuhan ratu..Mulai dari situ pemandangannya sudah pantai terus sepanjang jalan..sekitar zuhur itu kita berhenti sejenak, makan siang sekalian sholat..Hitung-hitung ngelurusin kaki sama dinginin pantat hehehe
Kita langsung di sambut sama gerbang masuk..bayar tiket 5 ribu/orang kalo tidak salah ya *aduuuhh pikun banget deh aku*
Di situ kita menunggu dijemput ibu yang punya penginapan..Setelah menunggu 10 menit, akhirnya si ibu nongol juga, dianter lah kita ke pengingapan..Bentuk penginapannya itu kamar, bukan villa gitu..Rumah panggung gitu dengan dinding yang dari bilik, jadi kalau kamar sebelah ngobrol ketawa-ketawa ya kendengeran..Tapi luas banget, ada 2 kasur dan kamar mandi di dalam..Pantes kata ibunya mau bawa berapa orang terserah karena luas..Kita malah tadinya sempat mikir mau nambah extra bed takut tidak muat eh ternyata cukup banget..Harganya itu 500ribu/malam..Murah kan??tapi sayangnya tidak dapat makan, cuma dapat kopi dan teh gratis, pisang goreng pas pagi..
Sekitar abis ashar, sholat langsung berangkat ke pantai, cukup jalan kaki 15 menit sampai..
Setelah puas foto-foto kita balik ke penginapan *belum puas juga si sebenernya* lanjut sholat maghrib, antri buat mandi, terus para lelakinya beli makan, para wanitanya bersihin kamar..Ngeres banget sama pasir..Itu sumpah ya lama banget mereka, entah tebar pesona dulu apa emang ngantri..Karena udah laper banget akhirnya saya ama temen saya beli pop mie buat ngeganjel perut..Terus buru-buru di rapihin biar tidak ketahuan abis makan pop mie sama para lelakinya hehehe
Tadi saya sudah bilang kan kondisi penginapannya yang berdinding bilik..
Nah yang sebelah kiri kami itu rombongan 6 orang juga, sama cowo 3 cewe 3 tapi usia di bawah kami, masih anak labil lah..Tapi suara mereka ngalahin rombongan yang di kamar sebelah kanan kami..Pas jam 11 itu mereka juga tenang..Saya dan teman-teman saya pikir sudah tidur eh ternyata jam 1 pagi pas kami lagi asik tidur tiba-tiba suara grabak grubuk ketawa cekakak cekikik suara TV kenceng banget dari kamar sebelah kiri kami..Serentak saya dan teman-teman saya kompak banget langsung pada bangun dan istighfar..
Ditungguin sampai jam setengah 2 itu masih kayak begitu, tidak nyadar..Sudah digedor sama teman saya masih tidak nyadar juga, akhirnya saya gedor saya teriakin baru pada diem..Dan itu yang minta maaf malah cowo-cowonya, cewe-cewenya mah diem aja au kemana..Baru deh bisa tidur nyenyak sampai pagi..
Pas jam 5 itu rombongan kami sudah pada bangun, sholat shubuh, siap-siap ke pantai..Sayangnya hujan, jadi baru bisa keluar jam 6..Dan teman saya yang masih dendam sama kamar sebelah sampai ingin nyari aqua galon buat dipukul-pukul hehehe
Setelah
sarapan pisang goreng, kita langsung berangkat ke pantai..Sampai pantai
itu masih sepi, jadi masih puas buat foto-foto..Terus kita langsung ke
tanjung layar..

Naik-naik ke atas karang cuma buat foto, dan itu ombaknya gak nyantai banget aselli..
Pantai sawarna yang terletak di daerah Banten ini dijuluki Kutanya pulau
Jawa..Di pantai ini tidak diperbolehkan berenang karena ombaknya yang
tinggi, makanya di sini banyak yang surfing, bule-bule si rata-rata
hehehe..
Saya
dan teman-teman saya ke sana saat libur natal tanggal 25 – 26 Desember
2013..Liburan yang dadakan banget itu alhamdulillahnya jadi..Bayangin
aja selasa siang baru ngomongin, sorenya booking penginapan, pulang
kerja masih belanja bulanan dulu, jam 10 malam baru packing, besoknya
jam 7 pagi sudah harus kumpul..
Saya dan teman saya berenam ke sana naik motor, jadinya ada 3 motor..Kami berangkat dari tempat kumpul di tanjung barat jam 8 lewat sepertinya, karena nunggu 1 teman saya lama banget..Dengan prediksi waktu tempuh sekitar 8 jam paling lama, akhirnya kami berangkat..Bismillahirrohmanirrohim..
Kami berangkat lewat bogor terus ke sukabumi..naik turun gunung trus naik turun gunung lagi..alhamdulillahnya tidak macet..Dan kita juga jalan dengan kecepatan normal biasa..Tracknya itu lho keren bangeeeeeeeettt..berasa naik roller coaster, tanjakan tajam trus tahu-tahu langsung turunan tajam plus tikungan tajam, kiri itu jurang, kanan itu hutan tebing apa gitu udah tidak jelas..wiiiihhhh mantep banget pokoknya..Terus kita juga ngelewatin gunung yang isinya itu pohon kepala sawit..keren pemandangannya..Untungnya jalanannya itu sudah aspal walaupun masih banyak yang bolong-bolong..
Kita sempat bingung arah, pas sampai apa ya lupa namanya, karena teman yang jadi penuntun jalan lupa arah hehehe..Itu kondisi siang bolong, laper pula, nanya orang tapi yang ditanya tidak tahu karena bukan orang situ katanya..Akhirnya kita melanjutkan perjalanan dengan mengandalkan GPS..Alhamdulillahnya tidak nyasar..
Singkat cerita, sampailah kita di kawasan pelabuhan ratu..Mulai dari situ pemandangannya sudah pantai terus sepanjang jalan..sekitar zuhur itu kita berhenti sejenak, makan siang sekalian sholat..Hitung-hitung ngelurusin kaki sama dinginin pantat hehehe
Perjalanan
kita lanjutkan..Saya pikir sebentar lagi sampai, tidak tahunya masih 1
jam lebih lagi..Pas sampai di kawasan Sawarna itu, kita disambut dengan
jembatan gantung kayu..Oh My God!! Kita lewat sini ini beneran??
Akhirnya saya cuma bisa pegangan kenceng banget dan teriak2 sendiri pas
motor mulai ngelewatin jembatan gantung kayu yang goyang-goyang..Pas
sudah sampai seberang akhirnya ketawa-ketawa sendiri *kayaknya seneng
banget lewat dari maut ahahaha
Kita langsung di sambut sama gerbang masuk..bayar tiket 5 ribu/orang kalo tidak salah ya *aduuuhh pikun banget deh aku*
Di situ kita menunggu dijemput ibu yang punya penginapan..Setelah menunggu 10 menit, akhirnya si ibu nongol juga, dianter lah kita ke pengingapan..Bentuk penginapannya itu kamar, bukan villa gitu..Rumah panggung gitu dengan dinding yang dari bilik, jadi kalau kamar sebelah ngobrol ketawa-ketawa ya kendengeran..Tapi luas banget, ada 2 kasur dan kamar mandi di dalam..Pantes kata ibunya mau bawa berapa orang terserah karena luas..Kita malah tadinya sempat mikir mau nambah extra bed takut tidak muat eh ternyata cukup banget..Harganya itu 500ribu/malam..Murah kan??tapi sayangnya tidak dapat makan, cuma dapat kopi dan teh gratis, pisang goreng pas pagi..
Penginapan ini viewnya sawah, jadi pas buka jendela yang di lihat itu langsung sawah hehehe
Kita
sampai di sana itu sekitar jam setengah 3 sore, termasuk cepat karena
kita lama berhenti pas makan siang itu..Pas sampai langsung pada
tepar..Ada juga yang masih sempat-sempatnya mandi dulu hehehe
Sekitar abis ashar, sholat langsung berangkat ke pantai, cukup jalan kaki 15 menit sampai..
Pas di pantainya itu iiiihhhh rameee..Langsung mulai foto2 narsis ^.^
Sebenernya
kita pengen ke tanjung layarnya, cuma karena sudah sore jadi lautnya
lagi pasang, kata temen ke sana bisa tapi tidak bisa turun..Akhirnya
kita cuma setengah jalan ke tanjung layar terus foto-foto sambil nunggu
sunset..
Setelah puas foto-foto kita balik ke penginapan *belum puas juga si sebenernya* lanjut sholat maghrib, antri buat mandi, terus para lelakinya beli makan, para wanitanya bersihin kamar..Ngeres banget sama pasir..Itu sumpah ya lama banget mereka, entah tebar pesona dulu apa emang ngantri..Karena udah laper banget akhirnya saya ama temen saya beli pop mie buat ngeganjel perut..Terus buru-buru di rapihin biar tidak ketahuan abis makan pop mie sama para lelakinya hehehe
Selesai makan malam jam 10, kita langsung beranjak tidur..Baru berasa itu capeknya badan..Ada kejadian ngeselin lucu gitu..
Tadi saya sudah bilang kan kondisi penginapannya yang berdinding bilik..
Nah
kamar kami itu di tengah-tengah..Sebelah kanan itu rombongannya lebih
banyak, campur juga cowo cewe tapi dengan persentase cewenya lebih
sedikit, umur mereka lebih tua dari saya dan teman-teman saya..Mereka
ngobrol nyanyi berisik si tapi pas jam 11-12 malam itu mereka sudah
tenang, TV juga sudah dimatiin, mereka masih ngobrol si tapi pelan jadi
tidak ganggu yang sebelahnya..
Nah yang sebelah kiri kami itu rombongan 6 orang juga, sama cowo 3 cewe 3 tapi usia di bawah kami, masih anak labil lah..Tapi suara mereka ngalahin rombongan yang di kamar sebelah kanan kami..Pas jam 11 itu mereka juga tenang..Saya dan teman-teman saya pikir sudah tidur eh ternyata jam 1 pagi pas kami lagi asik tidur tiba-tiba suara grabak grubuk ketawa cekakak cekikik suara TV kenceng banget dari kamar sebelah kiri kami..Serentak saya dan teman-teman saya kompak banget langsung pada bangun dan istighfar..
Ditungguin sampai jam setengah 2 itu masih kayak begitu, tidak nyadar..Sudah digedor sama teman saya masih tidak nyadar juga, akhirnya saya gedor saya teriakin baru pada diem..Dan itu yang minta maaf malah cowo-cowonya, cewe-cewenya mah diem aja au kemana..Baru deh bisa tidur nyenyak sampai pagi..
Pas jam 5 itu rombongan kami sudah pada bangun, sholat shubuh, siap-siap ke pantai..Sayangnya hujan, jadi baru bisa keluar jam 6..Dan teman saya yang masih dendam sama kamar sebelah sampai ingin nyari aqua galon buat dipukul-pukul hehehe
Naik-naik ke atas karang cuma buat foto, dan itu ombaknya gak nyantai banget aselli..
Karena
ombaknya makin tinggi akhirnya kita turun, menepi ke pinggir terus
sarapan mie instan sama pisang goreng..Terus lanjut ke ujung pantai,
tidak tahu apa namanya..Perjalanan ke sana itu ngelewatin batu karang,
jadi jalannya di atas batu..Kalau lewat bawah itu licin, saya dan teman
saya sempat terjatuh..
Nah ujung pantai itu tembusnya ke pantai pelabuhan ratu..dari bibir pantai itu deket banget..sayang tidak ada fotonya
Karena
ngejar waktu biar naik turun gunungnya nanti tidak keburu gelap alias
kesorean, jadi kita langsung balik ke penginapan. Mandi, rapi-rapi,
siap-siap pulang..
Kita berangkat jam 11 siang dan baru sampai rumah jam 9 malam ahahaha
Itu karena macet banget dan kebanyakan berhenti, udah gitu masih sempet-sempetnya beli macaroni panggang
Ini pemandangan pas di jalan pulang, masih di atas gunung, belum terlalu jauh dari pantai sawarna..
Certa Dari Sawarna: Sawarna, Mutiara Banten di Pantai Selatan
Siapa yang tak kenal Pelabuhan Ratu. Kota kecil di pantai selatan Jawa
Barat itu terkenal sebagai lokasi wisata laut favorit. Ketenarannya
menyamai Pantai Pangandaran. Walaupun kedua pantai ini sama-sama berada
di Jawa Barat, tapi lokasinya sangat jauh. Pelabuhan Ratu berada di
sebelah barat, berbatasan langsung dengan Propinsi Banten. Sedangkan
Pangandaran, berada di sebelah timur menuju perbatasan Jawa Tengah.
Di peta, Pantai Sawarna terlihat bersisian dengan Pelabuhan Ratu. Pantai ini terletak dekat kota Bayah dan menjadi bagian dari Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Kalau dari Pelabuhan ada dua alternatif jalan yang bisa digunakan. Satu melalui jalur utara memutar ke Pasir Kuray - Cikotok - Bayah sedangkan alternatif kedua melalui jalan lintas Cisolok - Cilograng.
Kedua rute tersebut sama-sama bagus dan mulus, hanya memang ada beberapa bagian ruas jalan yang rusak cukup parah. Jalur pertama memang lebih jauh tapi jalannya relatif tidak terlalu terjal dan berkelok. Sebaliknya jika menggunakan rute kedua, Anda harus bersiap dengan kelokan dan terjalnya jalan dalam jarak yang relatif pendek. Hati-hati, jangan lupa mempersiapkan kendaraan dengan baik.
Memasuki desa Sawarna, kita akan mulai merasakan suasana desa pantai di beberapa bagian. Adapun di bagian lainnya terasa seperti desa di pedalaman biasa karena tak terdengar debur ombak. Banyak obyek wisata yang bisa Anda kunjungi sekaligus di desa ini. Hal tersebut tercantum jelas pada peta yang sudah disiapkan pemerintah setempat.
Dari sekian banyak obyek wisata, Tanjung Layar dan Pasir Putih
sepertinya menjadi favorit pengunjung. Itu ditandai dengan parkiran
mobil dan bus yang selalu penuh. Berbeda dengan tempat lainnya di
kawasan ini.
Letaknya yang berdekatan memudahkan pengunjung. Untuk masuk ke sini, kita harus melalui pintu gerbang depan jembatan gantung. Tarif sekali masuk Rp. 5000/orang.
Jarak tempuh ke Tanjung Layar sekitar 1 km, atau pengunjung juga bisa menyewa ojek. Ada juga pengunjung yang mengendarai motor hingga sampai ke lokasi. Sedangkan jarak ke Pasir Putih lebih dekat, hanya berkisar 200 meter. Kondisi jalan cukup bagus dengan pengeras paving block. Pengunjung cukup dimanjakan dengan pemandangan sawah, perkebunan dan bukit di kejauhan.
Dinamakan Tanjung Layar karena di kawasan ini terdapat batu besar menyerupai dua layar kapal. Bentuknya yang unik menjadikan daerah ini tempat pengambilan gambar favorit pengunjung. Tidak disarankan bermain air atau berenang di sini karena ombak yang sangat kuat. Selain itu dasar pantai berupa batuan berpotensi melukai jika tidak berhati-hati.
Bagi pengunjung yang ingin merasakan sensasi bermain ombak sebaiknya dilakukan di Pasir Putih. Di sini relatif aman karena pantainya yang landai dan berpasir. Tapi prinsip hati-hati dan waspada harus tetap diingat.
Pengunjung tak perlu bingung mengenai akomodasi. Di kawasan ini bertebaran homestay dan tempat makan yang cukup memadai. Begitupula dengan fasilitas kamar mandi dan air bersih. Bahkan pengunjung yang ingin memasang tenda pun bisa. Untuk kepentingan ini, pengunjung bisa meminta izin pada penduduk yang membuka warung di sekitar situ. Biasanya mereka akan mengizinkan dengan imbal balik belanja makanan di warung atau menggunakan fasilitas kamar mandi yang disediakan pemilik warung tersebut. Tak usah khawatir masalah harga, cukup terjangkau kok.
Sedikit pembeda dengan kawasan wisata pantai lainnya adalah masih sedikitnya pilihan kegiatan yang bisa dilakukan. Di kawasan Sawarna hanya tersedia fasilitas surfing, dan itupun tidak banyak pengunjung yang memanfaatkannya. Hanya segelintir wisatawan asing yang terlihat surfing. Di sini juga tidak terlihat aktifitas banana boat dan snorkeling. Mungkin karena ombaknya yang tidak memungkinkan.
Nah, jika Anda sedang merencanakan liburan ke pantai dan bosan dengan Carita, Anyer maupun Pelabuhan Ratu, mungkin saatnya mencoba Pantai Sawarna. Mutiara Propinsi Banten di Pantai Selatan.
Di peta, Pantai Sawarna terlihat bersisian dengan Pelabuhan Ratu. Pantai ini terletak dekat kota Bayah dan menjadi bagian dari Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Kalau dari Pelabuhan ada dua alternatif jalan yang bisa digunakan. Satu melalui jalur utara memutar ke Pasir Kuray - Cikotok - Bayah sedangkan alternatif kedua melalui jalan lintas Cisolok - Cilograng.
Kedua rute tersebut sama-sama bagus dan mulus, hanya memang ada beberapa bagian ruas jalan yang rusak cukup parah. Jalur pertama memang lebih jauh tapi jalannya relatif tidak terlalu terjal dan berkelok. Sebaliknya jika menggunakan rute kedua, Anda harus bersiap dengan kelokan dan terjalnya jalan dalam jarak yang relatif pendek. Hati-hati, jangan lupa mempersiapkan kendaraan dengan baik.
Memasuki desa Sawarna, kita akan mulai merasakan suasana desa pantai di beberapa bagian. Adapun di bagian lainnya terasa seperti desa di pedalaman biasa karena tak terdengar debur ombak. Banyak obyek wisata yang bisa Anda kunjungi sekaligus di desa ini. Hal tersebut tercantum jelas pada peta yang sudah disiapkan pemerintah setempat.
![]() |
| Peta Lokasi dilengkapi dengan keterangan penting termasuk tarif ojek ke daerah tertentu. |
Letaknya yang berdekatan memudahkan pengunjung. Untuk masuk ke sini, kita harus melalui pintu gerbang depan jembatan gantung. Tarif sekali masuk Rp. 5000/orang.
Jarak tempuh ke Tanjung Layar sekitar 1 km, atau pengunjung juga bisa menyewa ojek. Ada juga pengunjung yang mengendarai motor hingga sampai ke lokasi. Sedangkan jarak ke Pasir Putih lebih dekat, hanya berkisar 200 meter. Kondisi jalan cukup bagus dengan pengeras paving block. Pengunjung cukup dimanjakan dengan pemandangan sawah, perkebunan dan bukit di kejauhan.
![]() |
| Pintu masuk kawasan Tanjung Layar dan Pasir Putih. |
Dinamakan Tanjung Layar karena di kawasan ini terdapat batu besar menyerupai dua layar kapal. Bentuknya yang unik menjadikan daerah ini tempat pengambilan gambar favorit pengunjung. Tidak disarankan bermain air atau berenang di sini karena ombak yang sangat kuat. Selain itu dasar pantai berupa batuan berpotensi melukai jika tidak berhati-hati.
![]() |
| Penulis berfoto dengan latar belakang batu berbentuk layar. |
Bagi pengunjung yang ingin merasakan sensasi bermain ombak sebaiknya dilakukan di Pasir Putih. Di sini relatif aman karena pantainya yang landai dan berpasir. Tapi prinsip hati-hati dan waspada harus tetap diingat.
![]() |
| Pantai Pasir Putih, Sawarna Banten. |
Pengunjung tak perlu bingung mengenai akomodasi. Di kawasan ini bertebaran homestay dan tempat makan yang cukup memadai. Begitupula dengan fasilitas kamar mandi dan air bersih. Bahkan pengunjung yang ingin memasang tenda pun bisa. Untuk kepentingan ini, pengunjung bisa meminta izin pada penduduk yang membuka warung di sekitar situ. Biasanya mereka akan mengizinkan dengan imbal balik belanja makanan di warung atau menggunakan fasilitas kamar mandi yang disediakan pemilik warung tersebut. Tak usah khawatir masalah harga, cukup terjangkau kok.
Sedikit pembeda dengan kawasan wisata pantai lainnya adalah masih sedikitnya pilihan kegiatan yang bisa dilakukan. Di kawasan Sawarna hanya tersedia fasilitas surfing, dan itupun tidak banyak pengunjung yang memanfaatkannya. Hanya segelintir wisatawan asing yang terlihat surfing. Di sini juga tidak terlihat aktifitas banana boat dan snorkeling. Mungkin karena ombaknya yang tidak memungkinkan.
Nah, jika Anda sedang merencanakan liburan ke pantai dan bosan dengan Carita, Anyer maupun Pelabuhan Ratu, mungkin saatnya mencoba Pantai Sawarna. Mutiara Propinsi Banten di Pantai Selatan.
Monday, September 30, 2013
Cerita dari sawarna: Pesona Tersembunyi Pantai Sawarna
Waktu sudah melewati tengah malam ketika kami sampai kawasan Sawarna. Bergegas kami masuk ke resort Little Hula-Hula, yang menyewakan bungalow. Alasan kami memilih karena ukuran bungalownya yang dapat menampung 8-10 orang hanya tariff Rp800.000 per malam. Ada alternatif penginapan lain disekitarnya dengan tariff yang bervariasi. Apapun yang dipilih, lebih baik menyewa penginapan yg ber-AC, karena udara siang hari yang amat panas.
Lagoon Pari dan Karang Taraje
Letak Pantai Sawarna berada di desa Sawarna, kecamatan Bayah, provinsi Banten. Sawarna memiliki bentang alam yang lengkap serta kondisinya yang belum rusak oleh sentuhan industri wisata secara serampangan. Sebagian besar penduduknya tinggal di di kaki perbukitan.
Wisatawan begitu masuk Desa Sawarna langsung bisa menikmati lokasi pantai Pulau Manuk. Hamparan karang yang tersebar di Pantai Manuk ini sangat disukai wisatawan. Pulau Manuk dikelilingi hutan tropis hijau memberikan kesegaran alam udara pegunungan. Wisatawan bisa menyaksikan sunset yang merupakan pemandangan alam menakjubkan.
Di Sawarna banyak tersedia guide dan kendaran ojek yang bisa mengantarkan ke obyek wisata. Kami memutuskan memakai jasa guide dengan tarif Rp150.000 untuk mengantar ke Lagoon Pari dan Karang Taraje.
Perjalanan ke Lagoon Pari dan
Karang Taraje menggunakan mobil sekitar 3 km. Sampai kemudian kami harus
melanjutkan dengan berjalan kaki, melalui jalan setapak selama 30 menit. Yang
merasa tidak kuat bisa naik ojek dengan membayar Rp25.000. Jalanan berupa
batu-batu lepas yang tidak masalah dilewati motor ojek bila kering. Tapi
sehabis hujan akan sangat licin. Menurut guide kami, beberapa kali supir ojek
dan penumpangnya terjatuh.
Tantangan lainnya adalah menyebrangi jembatan gantung. Asal berani dan berhati-hati, kita bisa melewatinya dengan mudah. Tantangan lainnya adalah jalanan mendaki yang seperti tak ada hentinya. Semua terbayar begitu setelah melihat pemandangan yang indah, yakni Pantai Lagoon Pari.
![]() |
| Pantai Lagoon Pari yang memancarkan sejuta pesona kala pagi (foto: Rudyanto Arif Wibisono) |
Lagoon Pari berpasir putih, padat, dan membentang panjang hingga Karang Taraje. Kami bisa melihat kehidupan sehari-hari masyarakat pantai. Untuk yang beriwisata dengan anak-anaknya, banyak spot untuk bermain di pantai yang masih bersih. Bermain pasir sangat baik untuk menegmbangan kecerdasan motorik serta imajinasi yang memancing kreativitas. Tapi tetap harus diawasi, karena karakter ombak di pantai selatan yang cukup besar dan bisa tiba-tiba tinggi.
Dari Lagoon Pari, kami menuju ke Karang Taraje yang tak seberapa jauh. Di pantai ini kami melihat bebatuan karang yang berundak-undak menyerupai tangga. Mungkin itulah sebabnya dinamakan karang Taraje karena dalam bahasa Sunda taraje berarti tangga.
Bentuk yang tak lazim Karang Taraje inilah yang membuat kami bersemangat berfoto-foto. Namun waktu yang terbaik untuk berfoto di kawasan ini adalah saat matahari terbenam. Sebab di siang hari, cuaca yang terik malah membuat kehilangan pesonanya. Alternatif lain adalah di saat matahri terbit. Jadi, harus berangkat dari penginapan sesubuh mungkin. Kemudian, cari spot yangg menarik, siapkan kamera dan tripod. Sabarlah menunggu. Saat melihat matahari terbit perlahan-lahan segala kelelahan akan terbayar.
![]() |
| Deburan ombak nan indah di Karang taraje. (foto: Rudyanto Arif Wibisono) |
Sayang waktu kami terbatas di Sawarna. Padahal saya ingin sekali berkunjung ke Tanjung Layar. Di dekat Tanjung Layar terdapat bongkahan karang yang berdiri menjulang dengan tegak berbentuk layar. Bongkahan karang ini dikelilingi gugus karang yang melindungi kawasan yang menjulang ini dari hempasan ombak.
Tuesday, September 24, 2013
Cerita dari sawarna: KEINDAHAN PANTAI SAWARNA YANG TERSEMBUNYI
Assalamu'alaikum bapak-bapak, ibu-ibu, teman-teman, kawan-kawan, dan kawin-kawin. #Ehmaap
untuk para wisatawan begitu masuk desa Sawarna sudah bisa menikmati lokasi pantai pulau manuk. hamparan karang yang tersebar di pantai manuk ini menjadikan pantai ini banyak di kunjungi para turis asing maupun wisatawan local dari berbagai daerah. pulau manuk ini di kelilingin hutan tropis yang hijau memberikan kesegaran alam udara pegunungan. ada hal yang menakjubkan lagi, wisatawan bisa menyaksikan sunset disini, ini merupakan pemandangan alam yang fantastis dan menakjubkan.
menurut gue yang pernah kesana, untuk jalan dari bogor ke Sawarna itu butuh waktu sekitar 15 jam, karena gue transit dulu di pelabuhan ratu karena gue takut terjadi apa apa di jalan karena akses menuju Sawarna itu masih dipenuhi hutan lebat dan jalan yang tidak terlalu lebar. dari pelabuhan ratu ke Sawarna itu butuh waktu sekitar 2 jam baru kita sampe di sebuah parkiran mobil tidak terlalu besar dan sebuah akses jembatan dari kayu dan tali besi untuk penyangga, setelah kita lewat dari jembatan situ, kita membeli tiket kalo ga salah harganya 5 ribu buat masuk ke dalam, ga sampai disitu kita harus berjalan lagi sekitar 10 menitan, baru deh kita bisa melihat pantai Sawarna yang indah itu.
ombak di Sawarna juga tidak telalu tinggi waktu gue ke sana, tapi kata orang orang di situ, biasanya ombak ombak di pantai Sawarna itu tinggi tinggi lohh
selain indah, di pantai Sawarna ada karang yang tinggi sekali, kalo pagi sampe siang hari air surut dan kita bisa ke karang tersebut untuk berfoto foto, tapi kalo udah sore atau malem, air laut pasang.
Untuk menuju ke goa Lalay bisa berjalan kaki bisa juga Naik Ojek. Goa Lalay lebih mudah diakses dengan menggunakan ojek ketimbang berjalan kaki, karena lokasinya memang cukup jauh. Dengan membayar 20 – 30 ribu, kita bisa diantar jemput ke goa lalay ini.
kali ini gue bakal sharing sharing sedikit informasi nih yang gue tau karena gue udah pernah ke sana dan cari cari di internet tentang daerah Sawarna di daerah banten.
Provinsi Banten adalah wilayah yang banyak memiliki beragam obyek wisata budaya dan karakteristik alam yang eksotik untuk di kunjungi. kawasan pantai Sawarna yang lengkap dengan berbagai landscape seperti gunung , hutan dengan tanaman tanaman langkany. sungai dengan corak budayanya yang unik, alamnya terbentang luas dari perbukitan yang landai, bukit karang yang terjal, daratan rendah yang sejajar dengan garis panta, goa goa, hutan tropis pantai, pantai pasir putih, pantai berkarang laut serta pelabuhan tradisional semuanya adalah potensi pariwisata Sawarna yang sangat mengagumkan dan menakjubkan.
Letak Pantai Sawarna berada di desa Sawarna, kecamatan Bayah, provinsi Banten. Sawarna mempunyai bentang alam yang lengkap serta kondisinya yang belum rusak oleh sentuhan tangan yang mengexploitasi secara serampangan. sedangkan tokografi wilayahnya Sawarna memiliki sedikit daratan dan memiliki ketinggian di bawah 10meter atas permukaan laut. sebagian besar penduduk berada di kaki perbukitan. letak pantai Sawarna bisa di tempuh melalui jalan darat dari kota serang - malimping - bayah Sawarna, alternatif kedua dari kota serang - rangkas bitung - gunung kencana - malimping - bayah, alternatif ke tiga kota bogor - pelabuhan ratu - Sawarna.
| perjalanan menuju Sawarna |
| perjalanan menuju pantai Sawarna |
| suasana pantai Sawarna |
ombak di Sawarna juga tidak telalu tinggi waktu gue ke sana, tapi kata orang orang di situ, biasanya ombak ombak di pantai Sawarna itu tinggi tinggi lohh
| pantai Sawarna |
| yang pake baju item itu gue |
| karang di pantai Sawarna |
oh iya, selain pantainya yang indah, Sawarna juga memili tempat wisata goa. Salah satu goa yang sudah cukup terkenal di Sawarna adalah Goa Lalay. Goa Lalay yang terletak di kaki Bukit Pasir Tangkil ini masuk kedaerah Kampung Cipanas di desa wisata Sawarna. Lokasi Goa Lalay ini kurang lebih 2 KM dari desa Cikaung yang merupakan penginapan di Sawarna berada.
Lalay merupakai bahasa sunda yang berarti kelelawar karena disana dulunya banyak kelelawar. Mulut goa Lalay cukup lebar, tetapi atapnya rendah.
Ketika akan memasuki goa ini haru berhati-hati karena goa di aliri sungai kecil tapi kalau salah melangkah bisa terperosok hingga basah sepinggang dan lumpurnya sangat licin. apalagi Menurut infomasi masyarakat lokal, di Goa lalay itu pernah ada ular yang cukup besar.
Goa Lalay sudah mulai dikunjungi wisatawan sejak tahun 2000. Panjang Goa yang bisa dikunjungi hanya sepanjang 250 meter saja dari pintu goa karena semakin dalam semakin mengecil. Panjang goa ini diperkirakan mencapai 10 hingga 15 kilometer.
![]() |
| goa lalay |
Untuk masuk ke goa, kita dikenakan biaya masuk sebesar Rp. 2.000,- /orang. Dipos masuk, kita juga bisa menyewa head lamp atau senter untuk menjelajahi goa. Untuk sewa tersebut kita dikenakan biaya Rp. 5.000,-.
selain goa lalay Berwisata ke pantai Sawarna rasanya kurang afdol bila tidak mengunjungi kawasan wisata pantai Goa Langir, Sawarna. Tempat ini memang lumayan jauh dari pantai cantil, goa lalay dan Pantai Tanjung Layar. Tak heran bila tak banyak pengunjung datang ke tempat ini.
Tapi saat kamu berkunjung ke tempat ini banyak spot yang bagus untuk mengambil foto. Misalnya, pantai langir. Panta langir yang tak kalah cantiknya dengan Pantai Tanjung Layar. Pantai ini terletak di garis pantai Sawarna. Keunggulan dari pantai langir adalah pantai ini bisa di akses dengan kendaraan pribadi baik mobil maupun motor dan kamu bisa menaruhnya tepat di depan pantai langir.
Di pantai langir, kamu bisa berkunjung ke goa langir, goa seribu candi, spot panjat tebing dan camping. Gimana? Seru bukan. Saat masuk ke goa seribu candi, kamu akan melihat stalagmit dan stalagtit, panjang goa ini ± 30 meter.
Betul-betul menakjubkan bayangin saja goa ini tak begitu luas tapi memiliki banyak candi di dalamnya. Melihat lebih dekat di goa seribu candi kamu pasti akan terkagum melihat keindahan ornamen goa yang ada di goa seribu candi.
dan Sawarna adalah salah satu pantai yang harus di kunjungi para wisatawan, capek yang kalian rasain di perjalanan pasti kebayar deh sama keindahan pantai nya yang indah banget:)
happy holiday masbrooh :))
dan Sawarna adalah salah satu pantai yang harus di kunjungi para wisatawan, capek yang kalian rasain di perjalanan pasti kebayar deh sama keindahan pantai nya yang indah banget:)
happy holiday masbrooh :))
Wednesday, September 11, 2013
Cerita dari Sawarna: Memanjakan Mata dan Kamera di Sawarna
Sawarna, nama yang tak asing bagi pencinta traveling dan fotografi landscape. Namanya begitu terkenal, karena seringnya orang membicarakan dan meng-upload foto foto landscape keindahan pantai-pantai di Sawarna. Ombaknya yang besar sangat cocok bagi yang senang olahraga surfing (Selancar). Bahkan sudah dikenal sampai mancanegara dengan banyaknya turis asing yang menyambangi pantai ini. Jika anda ingin memanjakan mata dan kamera anda, datanglah ke Sawarna.
Seringkali saya salah menyebut Sawarna dengan Sarwana. Sampai suatu kali saya bertanya kepada teman “yang benar pantai Sawarna atau Sarwana sih?” teman saya malah menertawakan saya, “Pantai Sawarna, kalau Sarwana kan penyanyi Elfa’s Singer he...”
Letaknya yang tidak jauh dari Jakarta, biaya trip yang tidak mahal (hanya Rp. 700,000), pemandangan alam yang indah, menjadi alasan utama untuk nge-trip kesana.
Gayung pun bersambut, kebetulan ada penawaran dari travel agent untuk nge-trip ke sana. Impian yang sudah terpendam lama untuk mengunjungi Sawarna bakal terwujud.
Saya pun mengontak teman-teman yang sudah terbiasa nge-trip bareng. Banyak teman yang tidak bisa ikut, dengan berbagai alasan. Ada yang kebetulan waktunya bersamaan nge-trip ke luar negeri atau belum lama nge trip ke daerah lain. Mentok hanya tiga orang termasuk saya yang akhirnya pergi.
Saat sampai di Hokben Kartika Chandra tempat meetingpoint, belum ada peserta yang datang, hanya Maria teman trip yang sudah datang dan sedang makan. Saya pun memesan satu paket makanan karena belum makan dari rumah.
Satu persatu peserta berdatangan, mereka berombongan bersama dengan teman-teman trip nya. Total peserta 18 orang, termasuk pemilik travel, Mbak Nina. Jam setengah sepuluh malam, kami menaiki mobil elf putih menuju ke arah Sukabumi. Perjalanan sangat lancar karena tidak terkena macet.
Rasa capek, membuat peserta trip tertidur dengan pulasnya. Saya terbangun saat jalan mulai naik-turun, menikung ke kiri dan ke kanan. Entah sudah sampai dimana. Terlalu gelap untuk mengenali daerah yang kami lewati. Hanya sorot lampu kendaraan yang menunjukkan jalan beraspal yang harus kami lewati.
Penginapan yang kami tempati
Jam setengah empat pagi, kami sudah sampai di Sawarna. Kami sampai lebih cepat dari perkiraan. Hanya 6 jam dari prediksi 7-8 jam perjalanan dari Jakarta. Penginapan yang kami tempati berupa rumah panggung yang ramah lingkungan karena menggunakan bahan kayu dan berdinding anyaman bambu, beratapkan ijuk. Dari papan nama tertulis “Sawarna, Little Hula Hula Cottage & Cafe.”
Karena peserta laki-lakinya hanya dua orang, saya dan Yunaidi, kami mendapat kehormatan menempati satu cottage, sementara yang perempuan di dua cottage sisanya. Untuk menghemat tenaga kami langsung melanjutkan tidur. Zzzz.....
Pemandangan sawah di belakang penginapan
Mentari pagi, membangunkan kami. Hawa yang sejuk dengan pemandangan alam pedesaan langsung menyergap panca indera. Aroma angin pantai langsung tercium, pantai berpasir putih dengan pohon nyiurnya terpampang nyata di depan penginapan, sayup-sayup terdengar deburan ombaknya. Sementara di belakang penginapan pegunungan dengan pohon-pohonan yang lebat dan hamparan sawah yang menghijau berundak-undak seolah-olah sedang mendaki bukit. Cakrawala pun membiru menjadi latar menghijaunya alam.
Desa Sawarna, terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Berbatasan langsung dengan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Setelah sarapan, trip ke pantai-pantai di Sawarna pun dimulai. Pantai Pertama yang akan kami kunjungi adalah Pantai Ciantir. Dari tempat parkir masih harus berjalan kurang lebih 1 km untuk mencapai pantai. Kami melewati jembatan gantung yang melintang di sungai dan akan bergoyang goyang saat melewatinya. Rumah-rumah penduduk desa Cikaung (nama desa yang saya lewati) umumnya sudah disulap menjadi homsestay/rumah penginapan, seiring makin banyaknya jumlah wisatawan yang berkunjung kesana. Inilah obyek-obyek wisata yang kami kunjungi selama di Sawarna.
1. Pantai Ciantir
Pantai Ciantir, memiliki pantai berpasir putih dengan deburan ombak yang besar. Gemuruh ombaknya menderu-deru tinggi menerjang pantai. Pantai ini lebih cocok sebagai tempat untuk kegiatan olahraga. Sarana olahraganya pun tersedia seperti Volly Pantai dengan net yang melintang di tepi pantai atau sekedar bermain sepakbola di pasir putihnya yang luas. Mau berenang rasanya seram, melihat ombaknya yang besar, harus punya nyali dan berhati-hati agar tidak tergulung ombak dan terhempas. Kecuali anda ingin belajar olahraga surfing. Tak satupun dari kami yang berani terjun ke laut. Kami hanya melihat dengan mata kamera saja.
Pantai Ciantir yang terbelah dua
Di Pantai Ciantir, ada bagian dari pantainya yang terbelah menjadi dua bagian oleh selokan yang menyerupai sungai. Air nya bening bak kaca, jika kita berdiri diseberang selokan, akan terlihat bayangan, bagaikan di depan cermin, obyek yang menarik untuk fotografi. Jika ombak berlarian ke pantai akan seperti riak air yang beresonansi, berkejar-kejaran, wow indahnya. Pembelahan pantai oleh selokan itu membuat pantai menjadi lebih eksotis. Musa membelah air laut menjadi dua, selokan itu membelah pantai Ciantir menjadi dua. Amazing!
2. Pantai Tanjung Layar
Tanjung Layar saat air laut pasang
Selanjutnya kami menyusuri jalan yang masih segaris dengan pantai Ciantir. Kurang lebih 1 km jaraknya dari Pantai Ciantir. Pantai yang menjadi ikon Sawarna, Tanjung Layar. Pantai ini adalah pantai karang. Ada dua batuan yang menyerupai dua layar yang terkembang buatan alam dengan dinding-dinding karang di sekitarnya. Saat kami sampai disana, air laut sedang pasang, jadi kami tidak bisa mencapai batu-batuan yang menyerupai layar. Jarak batu layar dari bibir pantai kurang lebih lima puluhan meter. Mbak Nina, tourguide kami berkata: “Air pasang terjadi pada pagi sampai kurang lebih jam 2 siang, nanti sore kita datang lagi ke sini untuk menyaksikan sunset, airnya pasti sudah surut dan kita bisa menyeberang mendekati dua batu layar itu!” mbak Nina menghibur kami yang kelihatan kecewa karena tidak bisa menyeberang mendekati batu layar.
Tanjung Layar saat air tidak pasang
Setelah pulang dari Gua Lalay, kami kembali ke Pantai Tanjung Layar. Kali ini tidak berjalan kaki melainkan naik ojek motor yang banyak tersedia disana. Ternyata benar, air laut sudah surut. Karang di seputar batu layar sudah bisa dilewati. Ketika sampai disana sudah banyak rombongan yang akan menyaksikan senja di Sawarna. Tempat ini memang indah untuk memanjakan mata dan kamera. Setiap sudut menyajikan detil obyek dan warna yang berbeda. Begitu menceburkan diri ke pantai, langsung disambut bayangan yang memantulkan batu layar di air yang bening. Karang-karang bertonjolan dengan cekungan air ditempeli oleh rumput laut yang berwarna hijau kekuning-kuningan rebah di dasar air. Menambah eloknya pantai Tanjung Layar.
Menyaksikan senja di Tanjung Layar
Terlebih saat mendekati dua batu yang menyerupai layar, cahaya senja membuat batu-batuan itu berwarna kuning keemasan, menambah kesan megah. Lantai dari karang di seputar batu layar (kira-kira seluas lapangan bola), membentuk pola-pola grafiti abstrak yang indah. Digenangi sisa-sisa air yang memantulkan apa saja obyek yang ada di atasnya. Batu Layar itu dibentengi oleh dinding karang yang akan memucratkan air jika berbenturan dengan ombak yang besar. Suaranya menggelegar, menakutkan. Tempat ini seperti kapal besar yang terdampar di pantai dengan menyisakan layar dan dinding kapalnya.
Grafiti senja di Tanjung Layar
Senja di Tanjung Kayar
Di ujung Barat, para penikmat fotografi berjejer mendirikan tripod, “menyiksa” kamera dengan slowspeed nya. Merekam saat-saat terakhir matahari meninggalkan cakrawala, masuk ke peraduannya. Satu kata, Spekta banget, sunsetnya indah, sungguh indah banget!. Pantas saja, pantai ini masuk dalam daftar 7 wonders, 7 keajaiban Nusantara.
3. Goa Lalay
Goa Lalay atau Goa Lawa adalah tempat ketiga yang kami kunjungi. Untuk mencapai lokasi, kami harus berjalan kaki melewati alam pedesaan yang asri dengan pemandangan persawahan dan bunyi gemericik air. Pemandangan yang indah membuat langkah kaki menjadi ringan. Sesampai di mulut goa, kami terpana, karena mulut goanya kecil, hanya setinggi manusia. Dasar goanya dialiri air sungai yang bening. Sudah sampai di sana, tanggung kalau tidak masuk ke dalamnya. “Sandalnya dilepas saja, bawahnya berlumpur takut tertinggal,” kata mas pemandu sambil menyorotkan senter ke pintu goa. Melepas sendal, menitipkan kamera, kami pun masuk ke dalam.
Pintu masuk Goa Lalay
Kegelapan langsung menyergap. Goa itu ternyata sangat luas dan panjang. Stalaktit nya sudah mati. Aroma mistis langsung membuat bulu kuduk berdiri, menyeramkan! apalagi hanya sang pemandu yang membawa senter. Serasa sedang menjalani uji nyali. Langsung membayangkan film-film horor yang membunuh satu per satu korbannya yang posisinya paling belakang hiiii.... seram! (kebanyakan nonton film horor nih). Kami hanya sampai di tengah goa, karena makin ke dalam makin horor suasananya.
4. Laguna Pari dan Karang Taraje
Laguna Pari ombaknya sangat besar
Untuk mencapai kedua pantai ini, kami harus berjalan kurang lebih 3-4 kilo dari desa Cikaung. Jalanannya berbatu tajam dan licin. Naik turun melalui jalan pedesaan, panas mentari yang menyengat membuat cepat lelah. Tapi rasa capek dalam perjalanan akan terbayar lunas jika sudah sampai ke pantai. Tipikal kedua pantai ini mirip dengan Pantai Ciantir dan Tanjung Layar. Pantai Laguna Pari berpasir putih dcngan ombaknya yang besar cocok untuk olahraga surfing, satu tipe dengan pantai Ciantir. Sementara Karang Taraje mirip dengan Tanjung Layar, yakni pantai karang.
Kami tidak berlama-lama di Laguna Pari hanya minum air kelapa muda dan mengambil beberapa foto, setelah itu naik ojek ke Karang Taraje. Wow... naik ojek di pinggir pantai seru juga, seram takut tergelincir.
Seorang fotografer sedang memotret keindahan Karang Taraje
Pesona pantai Karang Taraje langsung menyergap, perairannya yang biru, airnya yang bening dengan karang-karang yang bertonjolan. Debur ombak yang membenturkan diri ke karang pecah menyemburkan partikel-partikel putih bak kristal. Menjadi pemandangan yang menakjubkan. Tempat ini bagaikan surga yang tersembunyi dari riuhnya kehidupan dunia. Damai dan menenteramkan.
Jika Tanjung Layar arealnya menyerupai kapal yang terdampar di pantai, Karang Taraje menyerupai panggung pertunjukan. Panggung itu berada dibalik bukit batu. Ada karang besar yang panjangnya kurang lebih seratus meteran, lebar 10 meter dengan tinggi 3-4 meteran. Saya menyebut karang yang menyerupai panggung itu mirip Grand Canyon (mang udah pernah lihat Grand Canyon? Belum! he...). Pada saat ombak datang bergulung gulung membenturkan diri ke karang, akan membuat efek air terjun buatan alam yang menakjubkan. Makanya banyak fotografer yang mendirikan tripod nya di atas batu-batuan dan berharap ombak besar datang untuk merekam detik-detik saat gelombang laut membenturkan diri ke karang dan membuat efek air terjun yang menakjubkan.
Karang Taraje, mirip Grand Canyon kan?
Karang Taraje saat ombak datang membuat air terjun buatan
Tempat ini sangat eksotis sekaligus menjadi tempat yang paling berbahaya jika kita naik ke atas karangnya. Ombak yang besar siap menyambar apapun benda atau bahkan manusia yang ada di atas karang tersebut. Keasyikan memotret kadang jadi lupa dengan bahaya yang mengancam. Cerita-cerita kamera atau orang yang jatuh tersambar ombak menjadi cerita sehari-hari yang disampaikan oleh pemandu.
Jika ombak datang membuat aliran sungai di atas karang
Saya malah penasaran, pengen naik serta melihat pemandangan dari batu karang yang menyerupai panggung besar itu. Ditemani pemandu, saya dan beberapa teman memberanikan diri naik ke atas. ada tangga yang bisa dipakai untuk naik ke atas. Wow... saya seperti artis idola yang sedang pentas di panggung karang. Musiknya adalah deburan ombak dan gemericik air yang mengalir. Jika ombak datang, maka akan ada air yang mengalir bening seperti sungai di permukaan karang itu. Sata kata. Amazing!
Walau capek dan lelah harus berjalan kaki untuk mencapai tempat-tempat wisatanya, tapi kami puas, sudah bisa melihat Hidden Paradise (surga yang tersembunyi) dari pantai-pantai di Sawarna. Suatu saat saya akan datang lagi untuk, membawa peralatan fotografi beserta tripod nya untuk mencoba "Slowspeed" dan bercerita dengan gambar yang lebih indah dengan kamera saya. Nah... jika Anda ingin memanjakan mata dan kamera Anda! Datanglah ke Sawarna
Sawarna masuk dalam 7 wonders atau 7 Keajaiban Nusantara bersama dengan: Desa Kinahrejo Merapi, Tengger Bromo, Ombak Plengkung Alas Purwo, Desa Sade Rambitan Lombok, Dompu NTB dan Pulau Komodo. Dua diantaranya sudah saya kunjungi yakni Pantai Sawarna dan Tengger Bromo. Mimpi saya adalah mengunjungi 5 sisanya. Berharap bisa memenangkan “Terios, 7 Wonders Jelajah 7 Keajaiban Nusantara” Guna melengkapi destinasi wisata saya. “Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukan dunia, berlarilah tanpa lelah, sampai engkau meraihnya....” cuplikan dari syair lagu Laskar Pelangi yang dinyanyikan Nidji menjadi motivasi saya untuk meraihnya. (J)
Seringkali saya salah menyebut Sawarna dengan Sarwana. Sampai suatu kali saya bertanya kepada teman “yang benar pantai Sawarna atau Sarwana sih?” teman saya malah menertawakan saya, “Pantai Sawarna, kalau Sarwana kan penyanyi Elfa’s Singer he...”
Letaknya yang tidak jauh dari Jakarta, biaya trip yang tidak mahal (hanya Rp. 700,000), pemandangan alam yang indah, menjadi alasan utama untuk nge-trip kesana.
Gayung pun bersambut, kebetulan ada penawaran dari travel agent untuk nge-trip ke sana. Impian yang sudah terpendam lama untuk mengunjungi Sawarna bakal terwujud.
Saya pun mengontak teman-teman yang sudah terbiasa nge-trip bareng. Banyak teman yang tidak bisa ikut, dengan berbagai alasan. Ada yang kebetulan waktunya bersamaan nge-trip ke luar negeri atau belum lama nge trip ke daerah lain. Mentok hanya tiga orang termasuk saya yang akhirnya pergi.
Saat sampai di Hokben Kartika Chandra tempat meetingpoint, belum ada peserta yang datang, hanya Maria teman trip yang sudah datang dan sedang makan. Saya pun memesan satu paket makanan karena belum makan dari rumah.
Satu persatu peserta berdatangan, mereka berombongan bersama dengan teman-teman trip nya. Total peserta 18 orang, termasuk pemilik travel, Mbak Nina. Jam setengah sepuluh malam, kami menaiki mobil elf putih menuju ke arah Sukabumi. Perjalanan sangat lancar karena tidak terkena macet.
Rasa capek, membuat peserta trip tertidur dengan pulasnya. Saya terbangun saat jalan mulai naik-turun, menikung ke kiri dan ke kanan. Entah sudah sampai dimana. Terlalu gelap untuk mengenali daerah yang kami lewati. Hanya sorot lampu kendaraan yang menunjukkan jalan beraspal yang harus kami lewati.
Penginapan yang kami tempati
Jam setengah empat pagi, kami sudah sampai di Sawarna. Kami sampai lebih cepat dari perkiraan. Hanya 6 jam dari prediksi 7-8 jam perjalanan dari Jakarta. Penginapan yang kami tempati berupa rumah panggung yang ramah lingkungan karena menggunakan bahan kayu dan berdinding anyaman bambu, beratapkan ijuk. Dari papan nama tertulis “Sawarna, Little Hula Hula Cottage & Cafe.”
Karena peserta laki-lakinya hanya dua orang, saya dan Yunaidi, kami mendapat kehormatan menempati satu cottage, sementara yang perempuan di dua cottage sisanya. Untuk menghemat tenaga kami langsung melanjutkan tidur. Zzzz.....
Pemandangan sawah di belakang penginapan
Mentari pagi, membangunkan kami. Hawa yang sejuk dengan pemandangan alam pedesaan langsung menyergap panca indera. Aroma angin pantai langsung tercium, pantai berpasir putih dengan pohon nyiurnya terpampang nyata di depan penginapan, sayup-sayup terdengar deburan ombaknya. Sementara di belakang penginapan pegunungan dengan pohon-pohonan yang lebat dan hamparan sawah yang menghijau berundak-undak seolah-olah sedang mendaki bukit. Cakrawala pun membiru menjadi latar menghijaunya alam.
Desa Sawarna, terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Berbatasan langsung dengan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Setelah sarapan, trip ke pantai-pantai di Sawarna pun dimulai. Pantai Pertama yang akan kami kunjungi adalah Pantai Ciantir. Dari tempat parkir masih harus berjalan kurang lebih 1 km untuk mencapai pantai. Kami melewati jembatan gantung yang melintang di sungai dan akan bergoyang goyang saat melewatinya. Rumah-rumah penduduk desa Cikaung (nama desa yang saya lewati) umumnya sudah disulap menjadi homsestay/rumah penginapan, seiring makin banyaknya jumlah wisatawan yang berkunjung kesana. Inilah obyek-obyek wisata yang kami kunjungi selama di Sawarna.
1. Pantai Ciantir
Pantai Ciantir, memiliki pantai berpasir putih dengan deburan ombak yang besar. Gemuruh ombaknya menderu-deru tinggi menerjang pantai. Pantai ini lebih cocok sebagai tempat untuk kegiatan olahraga. Sarana olahraganya pun tersedia seperti Volly Pantai dengan net yang melintang di tepi pantai atau sekedar bermain sepakbola di pasir putihnya yang luas. Mau berenang rasanya seram, melihat ombaknya yang besar, harus punya nyali dan berhati-hati agar tidak tergulung ombak dan terhempas. Kecuali anda ingin belajar olahraga surfing. Tak satupun dari kami yang berani terjun ke laut. Kami hanya melihat dengan mata kamera saja.
Pantai Ciantir yang terbelah dua
Di Pantai Ciantir, ada bagian dari pantainya yang terbelah menjadi dua bagian oleh selokan yang menyerupai sungai. Air nya bening bak kaca, jika kita berdiri diseberang selokan, akan terlihat bayangan, bagaikan di depan cermin, obyek yang menarik untuk fotografi. Jika ombak berlarian ke pantai akan seperti riak air yang beresonansi, berkejar-kejaran, wow indahnya. Pembelahan pantai oleh selokan itu membuat pantai menjadi lebih eksotis. Musa membelah air laut menjadi dua, selokan itu membelah pantai Ciantir menjadi dua. Amazing!
2. Pantai Tanjung Layar
Tanjung Layar saat air laut pasang
Selanjutnya kami menyusuri jalan yang masih segaris dengan pantai Ciantir. Kurang lebih 1 km jaraknya dari Pantai Ciantir. Pantai yang menjadi ikon Sawarna, Tanjung Layar. Pantai ini adalah pantai karang. Ada dua batuan yang menyerupai dua layar yang terkembang buatan alam dengan dinding-dinding karang di sekitarnya. Saat kami sampai disana, air laut sedang pasang, jadi kami tidak bisa mencapai batu-batuan yang menyerupai layar. Jarak batu layar dari bibir pantai kurang lebih lima puluhan meter. Mbak Nina, tourguide kami berkata: “Air pasang terjadi pada pagi sampai kurang lebih jam 2 siang, nanti sore kita datang lagi ke sini untuk menyaksikan sunset, airnya pasti sudah surut dan kita bisa menyeberang mendekati dua batu layar itu!” mbak Nina menghibur kami yang kelihatan kecewa karena tidak bisa menyeberang mendekati batu layar.
Tanjung Layar saat air tidak pasang
Setelah pulang dari Gua Lalay, kami kembali ke Pantai Tanjung Layar. Kali ini tidak berjalan kaki melainkan naik ojek motor yang banyak tersedia disana. Ternyata benar, air laut sudah surut. Karang di seputar batu layar sudah bisa dilewati. Ketika sampai disana sudah banyak rombongan yang akan menyaksikan senja di Sawarna. Tempat ini memang indah untuk memanjakan mata dan kamera. Setiap sudut menyajikan detil obyek dan warna yang berbeda. Begitu menceburkan diri ke pantai, langsung disambut bayangan yang memantulkan batu layar di air yang bening. Karang-karang bertonjolan dengan cekungan air ditempeli oleh rumput laut yang berwarna hijau kekuning-kuningan rebah di dasar air. Menambah eloknya pantai Tanjung Layar.
Menyaksikan senja di Tanjung Layar
Terlebih saat mendekati dua batu yang menyerupai layar, cahaya senja membuat batu-batuan itu berwarna kuning keemasan, menambah kesan megah. Lantai dari karang di seputar batu layar (kira-kira seluas lapangan bola), membentuk pola-pola grafiti abstrak yang indah. Digenangi sisa-sisa air yang memantulkan apa saja obyek yang ada di atasnya. Batu Layar itu dibentengi oleh dinding karang yang akan memucratkan air jika berbenturan dengan ombak yang besar. Suaranya menggelegar, menakutkan. Tempat ini seperti kapal besar yang terdampar di pantai dengan menyisakan layar dan dinding kapalnya.
Grafiti senja di Tanjung Layar
Senja di Tanjung Kayar
Di ujung Barat, para penikmat fotografi berjejer mendirikan tripod, “menyiksa” kamera dengan slowspeed nya. Merekam saat-saat terakhir matahari meninggalkan cakrawala, masuk ke peraduannya. Satu kata, Spekta banget, sunsetnya indah, sungguh indah banget!. Pantas saja, pantai ini masuk dalam daftar 7 wonders, 7 keajaiban Nusantara.
3. Goa Lalay
Goa Lalay atau Goa Lawa adalah tempat ketiga yang kami kunjungi. Untuk mencapai lokasi, kami harus berjalan kaki melewati alam pedesaan yang asri dengan pemandangan persawahan dan bunyi gemericik air. Pemandangan yang indah membuat langkah kaki menjadi ringan. Sesampai di mulut goa, kami terpana, karena mulut goanya kecil, hanya setinggi manusia. Dasar goanya dialiri air sungai yang bening. Sudah sampai di sana, tanggung kalau tidak masuk ke dalamnya. “Sandalnya dilepas saja, bawahnya berlumpur takut tertinggal,” kata mas pemandu sambil menyorotkan senter ke pintu goa. Melepas sendal, menitipkan kamera, kami pun masuk ke dalam.
Pintu masuk Goa Lalay
Kegelapan langsung menyergap. Goa itu ternyata sangat luas dan panjang. Stalaktit nya sudah mati. Aroma mistis langsung membuat bulu kuduk berdiri, menyeramkan! apalagi hanya sang pemandu yang membawa senter. Serasa sedang menjalani uji nyali. Langsung membayangkan film-film horor yang membunuh satu per satu korbannya yang posisinya paling belakang hiiii.... seram! (kebanyakan nonton film horor nih). Kami hanya sampai di tengah goa, karena makin ke dalam makin horor suasananya.
4. Laguna Pari dan Karang Taraje
Laguna Pari ombaknya sangat besar
Untuk mencapai kedua pantai ini, kami harus berjalan kurang lebih 3-4 kilo dari desa Cikaung. Jalanannya berbatu tajam dan licin. Naik turun melalui jalan pedesaan, panas mentari yang menyengat membuat cepat lelah. Tapi rasa capek dalam perjalanan akan terbayar lunas jika sudah sampai ke pantai. Tipikal kedua pantai ini mirip dengan Pantai Ciantir dan Tanjung Layar. Pantai Laguna Pari berpasir putih dcngan ombaknya yang besar cocok untuk olahraga surfing, satu tipe dengan pantai Ciantir. Sementara Karang Taraje mirip dengan Tanjung Layar, yakni pantai karang.
Kami tidak berlama-lama di Laguna Pari hanya minum air kelapa muda dan mengambil beberapa foto, setelah itu naik ojek ke Karang Taraje. Wow... naik ojek di pinggir pantai seru juga, seram takut tergelincir.
Seorang fotografer sedang memotret keindahan Karang Taraje
Pesona pantai Karang Taraje langsung menyergap, perairannya yang biru, airnya yang bening dengan karang-karang yang bertonjolan. Debur ombak yang membenturkan diri ke karang pecah menyemburkan partikel-partikel putih bak kristal. Menjadi pemandangan yang menakjubkan. Tempat ini bagaikan surga yang tersembunyi dari riuhnya kehidupan dunia. Damai dan menenteramkan.
Jika Tanjung Layar arealnya menyerupai kapal yang terdampar di pantai, Karang Taraje menyerupai panggung pertunjukan. Panggung itu berada dibalik bukit batu. Ada karang besar yang panjangnya kurang lebih seratus meteran, lebar 10 meter dengan tinggi 3-4 meteran. Saya menyebut karang yang menyerupai panggung itu mirip Grand Canyon (mang udah pernah lihat Grand Canyon? Belum! he...). Pada saat ombak datang bergulung gulung membenturkan diri ke karang, akan membuat efek air terjun buatan alam yang menakjubkan. Makanya banyak fotografer yang mendirikan tripod nya di atas batu-batuan dan berharap ombak besar datang untuk merekam detik-detik saat gelombang laut membenturkan diri ke karang dan membuat efek air terjun yang menakjubkan.
Karang Taraje, mirip Grand Canyon kan?
Karang Taraje saat ombak datang membuat air terjun buatan
Tempat ini sangat eksotis sekaligus menjadi tempat yang paling berbahaya jika kita naik ke atas karangnya. Ombak yang besar siap menyambar apapun benda atau bahkan manusia yang ada di atas karang tersebut. Keasyikan memotret kadang jadi lupa dengan bahaya yang mengancam. Cerita-cerita kamera atau orang yang jatuh tersambar ombak menjadi cerita sehari-hari yang disampaikan oleh pemandu.
Jika ombak datang membuat aliran sungai di atas karang
Saya malah penasaran, pengen naik serta melihat pemandangan dari batu karang yang menyerupai panggung besar itu. Ditemani pemandu, saya dan beberapa teman memberanikan diri naik ke atas. ada tangga yang bisa dipakai untuk naik ke atas. Wow... saya seperti artis idola yang sedang pentas di panggung karang. Musiknya adalah deburan ombak dan gemericik air yang mengalir. Jika ombak datang, maka akan ada air yang mengalir bening seperti sungai di permukaan karang itu. Sata kata. Amazing!
Walau capek dan lelah harus berjalan kaki untuk mencapai tempat-tempat wisatanya, tapi kami puas, sudah bisa melihat Hidden Paradise (surga yang tersembunyi) dari pantai-pantai di Sawarna. Suatu saat saya akan datang lagi untuk, membawa peralatan fotografi beserta tripod nya untuk mencoba "Slowspeed" dan bercerita dengan gambar yang lebih indah dengan kamera saya. Nah... jika Anda ingin memanjakan mata dan kamera Anda! Datanglah ke Sawarna
Sawarna masuk dalam 7 wonders atau 7 Keajaiban Nusantara bersama dengan: Desa Kinahrejo Merapi, Tengger Bromo, Ombak Plengkung Alas Purwo, Desa Sade Rambitan Lombok, Dompu NTB dan Pulau Komodo. Dua diantaranya sudah saya kunjungi yakni Pantai Sawarna dan Tengger Bromo. Mimpi saya adalah mengunjungi 5 sisanya. Berharap bisa memenangkan “Terios, 7 Wonders Jelajah 7 Keajaiban Nusantara” Guna melengkapi destinasi wisata saya. “Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukan dunia, berlarilah tanpa lelah, sampai engkau meraihnya....” cuplikan dari syair lagu Laskar Pelangi yang dinyanyikan Nidji menjadi motivasi saya untuk meraihnya. (J)
Subscribe to:
Posts (Atom)






